
Gagasan mengembalikan industri pariwisata secara pandemi Covid-19 mengurucut pada dua aspek. Pertama, peran wisatawan domestik dalam tahap awal (nomalisasi) pasca pandemi. Kedua, munculnya standar baru dalam kehidupan yang mempengaruhi layanan wisata (disebut sebagai the new normal). Ilustrasi yang digunakan pasca-serangan terorisme, sistem pengamanan di hotel dan obyek vital diperketat dengan screening. Kini, bila memasuki area vital tidak dilakukan pemeriksaan akan muncul rasa was-was dan kekhawatiran akan keselamatan. Itulah the new normal, yang menjadi kebiasaan dan standar baru di kehidupan, mengubah tradisi dan kebiasaan lama ke dalam standar baru yang lebih bermutu.
Di ranah inilah peran wisatawan domestik (warga negara Indonesia) menjadi sentral. Selain sebagai penggerak roda perekonomian. pergerakan wisatawan domestik juga akan menyiarkan berkeamanan dan implementasi the new normal di Indonesia sehingga menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia telah siap menerima tamu kembali.
Peran penting wisatawan domestik bagi kehidupan bangsa pernah benar-benar strategis saat posisi pariwisata RI di Kancah internasional terhimpit oleh aneka rupa tekanan global, di antaranya, pertama, kebijakan pelarangan melakukan perjalanan dan pencekalan dari otoritas negara-negara asing. Uni Eropa dan Arab Saudi misalnya, beberapa tahun lalu pernah mencekal maskapai penerbangan karena di nilai tidak becus menyelenggarakan jasa penerbangan yang aman dan nyaman. Rentetan nya berujung pada penurunan jumlah kunjungan wisata mancanegara ke Indonesia.
Kedua, risis finansial Global yang pernah diembuskan melalui resesi Amerika Serikat dan mengancam jutaan pekerja di Tanah Air akan kehilangan pekerjaan, juga sekali lagi menempatkan warga bangsa sebagai penyelamat melalui perjalanan wisata di dalam negeri. Beberapa program pemerintah saat krisis global yang waktu itu diterapkan adalah BLT, BOS, Raskin, Jamkesmas, PNPM Mandiri, KUR, dan penurunan harga BBM. Krisis global justru dipahami berkebalikan sebagai momentum untuk semakin memperkuat pasar wisata dalam negeri, baik sebagai produsen maupun konsumen.
Pro-Poor Tourism
Selain standar kesehatan dan kebersihan lingkungan yang kian meningkat, tuntunan akan wisata yang berkualitas diprediksi juga akan menjadi hal baru. Quality Tourism bila diletakkan pada pemahaman konsumen, berarti jenis wisatawan yang memiliki daya beli tinggi. Namun, bila ditujukan pada aktivitas wisata, bermakna kegiatan wisata yang meningkatkan kepedulian pada lingkungan, interaksi dengan masyarakat lokal, dan terutama aktivitas wisata yang memberi manfaat pada kemanusiaan. Pada ranah inilah the new normal pertama-tama akan dijalankan, digerakkan dan ditumbuhkan oleh wisatawan domestik.
Teringat pernyataan presiden keenam Indonesia, SBY, pada masa krisis global yang melanda Indonesia beberapa tahun lalu. “Mau berlibur, silahkan berlibur bersama keluarga. Sambil berlibur, makan di warung atau restoran, itu produksi petani dan nelayan kita. Jangan lupa beli cenderamata, itu produk kerajinan yang memperkejakan banyak orang. Bawa keluarga menonton film Indonesia, itu ekonomi kreatif yang sedang berkembang,” demikian sedikit seruan SBY dalam website-nya.
Konsep-konsep pengembangan kepariwisataan yang diprediksi akan menjadi standar baru sebenarnya sudah dilakukan oleh United Nation World Toursim Organization sejak lama. Mulai dari community–based tourism, green tourism, bahkan yang terakhir ini dapat dikenal dengan sebutan pro-poor tourism. Akan tetapi apabila divermati muara dari seluruh konsep tersebut adalah sama, yaitu menciptakan sebuah produk yang sesuai dengan tuntutan pasar (wisatawan).
Isu budaya lokal, lingkungan hidup, dan peran pariwisata untuk mengurngi tingkat kemiskinan merupakan dominasi pembicaraan yang sangat intens di kalangan wisatawan saat ini, lebih-lebih ketika umat menusia di seluruh dunia mengalami penderitaan yang sama karena wabah COVID-19. Hasil survei oleh PATA (Pasific Asia Travel Association) pada tahun 2007 menunjukan bahwa wisatawan rela membayar lebih mahal 10-50% untuk liburan terkait pelestarian budaya dan lingkungan.
Indonesia sebagai salah satu tujuan destinasi dunia dengan Bali sebagai leading market bagi wisman sebenarnya sudah menjalankan green tourism dan pro-poor tourism. Sebut saja apa yang sudah dilakukan oleh Conservation International Indonesia Program (CIIP) dengan beberapa mitra kerjanya (Indriani Setiawati 2008). Program yang dikembangkan oleh CIIP adalah mendukung pelestarian alam dan perlindungan lingkungan; pelaksanaan kegiatan di sekitar kawasan (destinasi) dilakukan dengan rasa tanggung jawab yang tinggi dengan menggunakan prinsip-prinsip manajemen hijau/ramah lingkungan; menciptakan kemitraan lokal; pariwisata yang berdampak negative rendah; keuntungan ekonomi bagi masyarakat lokal; menggunakan panduan yang umum dan dapat dipertanggungjawabkan; perencanaa pengembangan pariwisata di daerah tujuan wisata yang eksotik; pengalaman yang tidak terlupakan di daerah tujuan wisata yang eksotik; pendidikan lingkungan, kepedulian dan tanggapan terhadap sumber daya; dan perlibatan masyarakat lokal.
Dengan demikian, peran wisatawan domestik dalam the new normal tidak sekedar menyerukan berwisata di dalam negeri, tetapi sekaligus mengarahkan warga bangsa untuk peduli pada kemanusiaan saudara sebangsa.
Sumber: Venue Edisi.151. Juni 2020. Hal.12-13
