Workshop Series Bantu UMKM Terhindar dari Jeratan Pinjol
16 Agustus 2024
jatim.jpnn.com, SURABAYA – Dosen International Businesss Management (IBM) Universitas Ciputra Dr Romauli Nainggolan bersama Dr Metta Padmalia dan Gladys Greselda Gosal menggagas workshop series bagi 60 wirausahawan mikro di Kota Medan.
Workshop tersebut diadakan menindaklanjuti fenomena pelaku UMKM terjerat pinjaman online atau pinjol untuk modal usaha. Maraknya modus penipuan model transaksi digital menggunakan identitas dan akun pemilik usaha juga meresahkan UMKM dalam mengelola keuangan. “Kami berkolaborasi dengan Dinas Penanaman Modal Kota Medan memberikan workshop untuk peningkatan literasi keuangan digital bagi UMKM,” kata Romauli, Kamis (15/8).
Peserta mendapat pembelajaran tentang kinerja transaksi keuangan, pengetahuan keuangan, pengetahuan digital, pengetahuan praktis layanan, hingga pengambilan keputusan penggunaan alat pembayaran digital. Workshop series dikemas dalam enam kali pertemuan dan berlangsung dua kali pertemuan secara onsite dan empat pertemuan secara online dilaksanakan mulai 11 Juli sampai Agustus 2024. Sasaran utama workshop series ini adalah para pelaku UMKM yang menggunakan QRIS sebagai alat pembayaran digitalnya.
“Jadi, fokus workshop ini selain UMKM melek teknologi keuangan digital agar terhindar dari penipuan dan kejahatan keuangan digital seperti peminjaman uang online (pinjol) juga mampu mencapai kinerja keuangan lebih baik dengan mengelola keuangan usaha dengan benar,” jelasnya. Kepala DPMPTSP Kota Medan Nurbaiti Harahap mengungkapkan pelaku UMKM di Medan dinilai sangat minim literasi keuangan sehingga sangat rentan menjadi korban penipuan dan kejahatan pinjol.
“Kami berterima kasih kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang telah menyediakan sumber daya melalui Universitas Ciputra Surabaya membantu pengembangan kewirausahaan di Medan,” ucapnya.
Menurutnya, era digital saat ini memang dibutuhkan transformasi cepat dari para pelaku usaha agar bisa bersaing di pasar. “Saya melihat tim dari Universitas Ciputra sudah menyampaikan aspek-aspek tersebut. Seperti pemahaman dan penggunaan uang elektronik, sampai risiko-risiko fintech,” tuturnya. Salah satu pelaku UMKM toko buku bekas, Aldha Musi mengaku mendapatkan banyak pencerahan setelah mengikuti workshop tersebut. “Manfaat yang paling terasa pastinya saya jadi melek keuangan digital, seperti fitur dan program tiap platform atau aplikasi. Tahu jenis-jenis dan contoh penipuan dan kecurangan yang sering terjadi lengkap dengan cara untuk mengantisipasinya,” ungkapnya. Dirinya juga mengaku makin berjejaring antarsesama pelaku usaha. Hal itu dinilai sangat penting untuk kemajuan usaha dan bisa menjalin kerja sama dengan UMKM lainnya. “Saya juga bisa saling sharing pengalaman, transaksi jual beli produk untuk meningkatkan usaha,” ucap dia. (mcr12/jpnn)
Redaktur & Reporter : Arry Dwi Saputra

