Dahulu mereka malu mengenakan kaus bertuliskan Sanggar Seni Getar Pakuan Kota Bogor usai latihan. Pasalnya, mereka sering dicemooh teman-temannya. Kini tidak lagi. Mereka bangga menjadi anggota sanggar. Apalagi sejak salah satu anggotanya, Sandrina, menjadi juara pertama acara “Indonesia Mencari Bakat” Trans TV 2013.
“Dulu anggota Sanggar Seni Getar (Gerak dan Tari) Pakuan (SSGP) juga cuma belasan anak bahkan pernah tinggal lima anak, kini anggotanya 1.000-an. Adapun yang aktif 850 orang, terdiri dari anak-anak, remaja, dan dewasa termasuk ibu rumah tangga. Jumlah anggota sanggar seni yang aktif sebanyak 800-an ini boleh dibilang terbanyak se-Jawa Barat bahkan bisa jadi se-Indonesia,” kata Zenzen Djuansyah (43), yang menjadi Ketua SSGP sejak 2003 menggantikan Sobur Anwar, ketua pertama (1992-2003).
Zenzen dengan gembira mengemukakan hal itu mengawali pembicaraannya tentang SSGP pada awal Januari di ruang kerjanya di SSGP. Ruang itu terletak di Gedung Kemuning Gading, lantai 3, milik Pemerintah Kota Bogor di belakang Kantor DPRD.
“Tahun 1992-1993-an, anggota sanggar yang orangtuanya anggota Korpri Kota Bogor itu memang malu memakai kaus SSGP karena dicemooh teman-temannya. Karena konotasi saat itu, yang belajar seni tradisional, dinilai anak-anak dari keluarga kelompok sosial ekonomi menengah kebawah dan pendidikannya rendah. Konotasi sanggar tari tradisional kurang baguslah,” kata Zenzen.
Cemoohan anak-anak itu justru membuat Zenzen semangat mengemas SSGP untuk mengikis cemoohan itu. Secara bertahap, ia mengenalkan apa itu kesenian Sunda lewat ibu-ibu dan melakukan promosi terbuka dengan pergelaran tari.
Selain itu, ia mengubah manajemen sanggar dari tradisional ke profesional. Tidak hanya itu, sanggar yang awalnya fokus pada kegiatan pertunjukan ini lalu dikembangkan ke pendidikan seni tari karawitan dan musik.
Pada 1994 sanggar pun, diayomi Wali Kota Eddy Gunardi (saat itu) sebagai pelindung, terbuka untuk umum. Awalnya, SSGP didirikan pada 1992, hanya diperuntukkan bagi putra-putri anggota Korpri, sebagai salah satu wadah penyaluran minat. Idenya berasal dari Wali Kota Bogor Suratman, saat itu. SSGP dibuka untuk umum karena anggotanya semakin berkurang.
Zenzen sebagai sekretaris SSGP pada 1996 diberi kewenangan Sobur untuk membentuk divisi pendidikan sekaligus menjadi penanggung jawabnya. Sementara itu, Sobur fokus pada kegiatan pertunjukan.
Berkat kerja keras Zenzen dan didukung pengurus lainnya dengan moto “Samiuk Ngaronjatkeun Budaya Bangsa: (Bersama Meningkatkan Budaya Bangsa) secara bertahap anggota SSGP bertambah.
Jual perhiasan istri
Kecintaan Zenzen mengelola sanggar cukup besar. Dia rela memilih menjadi ketua SSGP dan keluar dari status sebagai tenaga honorer di lingkungan Pemerintah Kota Bogor. Bahkan untuk membayar ruang terbuka di mal untuk kegiatan ujian menari bagi penari SSGP sebesar Rp 30 juta, Zenzen pun menjual perhiasan istrinya dan meminjam uang ke sana-kemari. Dalam waktu tiga bulan, talangan dana itu dapat dikembalikan dari uang iuran anggota dan hasil pertunjukan.
“Ujian dilaksanakan enam bulan sekali diikuti 700 siswa selama empat hari, sejak pagi sampai malam. Ujian ini dimaksudkan untuk mengukur kemampuan anak-anak belajar selama enam bulan. Mereka mengenakan kostum lengkap, ditonton orangtuanya, dan pengunjung mal,” kata Zenzen seraya menambahkan tim penilai berasal dari seniman/budayawan dan tokoh dari akademi dan non-akademi.
Kini, SSGP berusia 23 tahun. Tercatat 10.500 siswa/anggota yang pernah berlatih, dan 850 siswa masih aktif berlatuh tari, seperti tari jaipongan, tari sunda klasik, dan tari nusantara; bina vokal, musik, dan karawitan.
Keberadaan SSGP mulai dikenal luas, tidak hanya di Bogor, tetapi juga sampai tingkat Jawa Barat dan nasional. Puluhan kejuaraan pada berbagai lomba di tingkat lokal, Jabar, sampai nasional diraih.
Sejak SSGP didirikan, segala aktivitas dilakukan di Gedung Kemuning Gading. Namun, dari sisi penataan, pengadaan, dan pemeliharaan sarana penunjang, termasuk honor karyawan dan pelatih sebanyak 40 orang, semua didanai swakelola. Dananya berasal dari kontrak pertunjukan, sewa alat, penjualan CD, DVD, baju latihan, kostum pentas, serta iuran rutin peserta pendidikan dan latihan. Besarnya iuran untuk umum Rp 50.000 per bulan setiap anak, untuk putra-putri anggota Korpri mendapat diskon 25 persen, untuk anak seniman dan rekan mendapat diskon 50-75 persen, dan gratis bagi anak tidak mampu.
Budaya Sunda
Langkah dan kiprah SSGP selama ini fokus pada ranah pemuliaan, pewarisan, dan pengembangan yang di bingkai melalui kegiatan pendidikan dan latihan. Namun, semuanya berorientasi dan berbasis budaya Sunda yang hidup dan berkembang di Kota Bogor.
“Pola garapnya berpijak pada tradisi bihara (lama) dan kamari (kemarin), yang ditata menurut tata manajemen kiwari (sekarang), untuk memperkokoh jati diri kesundaan pada generasi saat ini, esok, lusa, dan pada masa yang akan datang,” kata ayah dari dua anak ini.
Zenzen berharap, SSGP menjadi sentra pendidikan dan pengembangan kesenian, dan menjadi barometer perkembangan seni di Jabar. Zenzen masih berangan-angan, SSGP bisa menumbuhkan kegiatan ekonomi kreatif berbasis budaya. Jejaknya sudah mulai terwujud.
“SSGP yang telah mencetak ribuan penari andal dan menumbuhkan 15 lulusn SSGO yang berhasil mendirikan sanggar tari.Selain itu, ada puluhan pembuat kostum dan perias penari telah bermunculan. Saya ingin masyarakata Kota Bogor bisa hidup dari seni, seperti Bali,” kata Zenzen seraya menyebutkan perputaran uang saat pelaksanaan ujian menari mencapai Rp 1 miliar. Jumlah itu berasal dari pembuatan/sewa kostum untuk 700-an peserta ujian, rias, uang ujian, uang untuk makan peserta, dan pengeluaran keluarga yang menunggu sambil makan serta belanja di mal.
(FX PUNIMAN Wartawan Tinggal di Bogor)
ZENZEN DJUANSYAH
▪ Lahir : Tasikmalaya, 8 September 1973
▪ Pendidikan : Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan, Tasikmalaya (tidak tamat)
▪ Pekerjaan : Ketua SSGP Kota Bogor
▪ Istri : Dina Fitria (37)
▪ Anak :
- Shafita Ramadhan (12)
- Muhamad Wikramawardana (7)
Sumber: Kompas.Kamis.22 Januari 2015.Hal.16

