Tantangan hidup anak di masa depan semakin berat. Pasalnya, zaman berubah dengan cepat. Cara untuk menghadapinya adalah dengan membekali anak dengan kemampuan entrepreneurship sehingga dapat memanfaatkan peluang yang ada di sekitar mereka. Pertanyaannya, bagaimana cara untuk membekali mereka?
Menurut Ibu Prof. Dra. Jenny Lukito Setiawan, M.A., Ph.D, Psikolog, salah satu yang efektif untuk membekali anak adalah menanamkan karakter entrepreneurial sejak dini kepada mereka. Dalam workshop yang berjudul “Pengembangan Karakter Entrepreneurial pada Anak”, Ibu Jenny sebagai pembicara mengajak para peserta, yakni para pasutri (pasangan suami-istri) yang memiliki anak usia SD hingga SMA untuk step-by-step memahami karakter-karakter entrepreneurial serta pola pengasuhan bersama (co-parenting) yang dapat mengembangkan karakter-karakter tersebut.
Workshop ini dilaksanakan pada Sabtu, 9 September 2017 yang lalu di Aria Centra Hotel, Surabaya. Sebelumnya, workshop ini telah diadakan sebanyak 2 kali, yaitu pada 17 Juni 2017 di Hotel Swiss-Belinn Manyar dan 29 Juli 2017 di favehotel MEX Surabaya.
Pada hari Sabtu, 9 September 2017 yang lalu, workshop diikuti oleh 20 orang. Acara dimulai pada pukul 08.00 pagi dan berlangsung selama 3 sesi. Sesi yang pertama membahas mengenai karakter entrepreneurial dan pengembangannya. Pada sesi ini, para pasutri belajar mengenai karakter entrepreneurial, seperti kegigihan, keberanian mengambil resiko, kreativitas, dan kemandirian. Mereka juga dipandu untuk mengisi worksheet yang telah tersedia untuk mengetahui seberapa entrepreneurial anak mereka. Setelah itu, Ibu Jenny menjelaskan kepada para peserta mengenai peran orangtua dan pola-pola asuh yang ada saat ini.

Sesi kedua berbicara soal membangun co-parenting antara ayah dan ibu. Co-parenting adalah bentuk pengasuhan anak di mana para orangtua secara efektif bekerja sama sebagai satu tim untuk mencapai tujuan. Dengan kata lain, pengasuhan anak tidak hanya menjadi tugas ibu atau ayah saja. Dengan segala perbedaan yang mungkin mereka miliki, keduanya harus saling bekerja sama. Pada sesi ini, masing-masing peserta diminta untuk merefleksikan bagaimana keterlibatan mereka dalam pengasuhan anak, khususnya dalam mengembangkan karakter entrepreneurial pada anak. Kemudian, dipandu oleh para fasilitator, yakni Ibu Theda Renanita, S.Psi., M.A., Ibu Fransisca Putri Intan, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dan Bapak Jandy Thenarianto, para peserta diajak untuk berdiskusi dalam kelompok mengenai hasil refleksi mereka.

Setelah jam makan siang, acara dilanjutkan dengan sesi 3 yang membahas mengenai penguatan pilar-pilar pernikahan untuk menunjang co-parenting. Aspek-aspek dalam pernikahan, di antaranya komunikasi, resolusi konflik, dan relasi finansial dianggap penting untuk dikuatkan agar pasutri dalam melakukan co-parenting dengan efektif. Apabila co-parenting dilakukan dengan baik, orangtua bisa memberikan dukungan sosial yang sangat diperlukan anak dalam mengembangkan karakter entrepreneurial.

Menurut Ibu Jenny, workshop ini merupakan kesempatan yang baik bagi para pasutri untuk membangun hubungan mereka. “Saya merasa bahwa memang suami dan istri perlu duduk bersama, couple time, dan berdiskusi perihal anak serta apa yang akan mereka lakukan. Di kehidupan sehari-hari, kesempatan itu jarang ada karena rutinitas ataupun gangguan dari anak,” ungkap beliau.
Sebagian besar peserta mengapresasi materi yang dibawakan karena dianggap relevan dengan kebutuhan orangtua saat ini. “Selain materi yang bagus, ada aplikasi langsung yang dilakukan bersama pasangan, mengaplikasikan materi secara langsung,”, “Acaranya dikemas dengan menarik sehingga tidak membosankan,”, serta “Panitia yang kooperatif dan pembicara kompeten,” adalah beberapa komentar dari peserta. Beberapa peserta bahkan berpendapat bahwa waktu workshop bisa ditambah sehingga lebih banyak materi yang dapat diperdalam lagi.

Foto-foto pada artikel ini merupakan foto kegiatan workshop pada 17 Juni 2017, 29 Juli 2017, dan 9 September 2017.
