Hormat dan Etika Anak SD yang Memudar: Apa Akibatnya?

Bagaimana jika rasa hormat dan etika pada anak sekolah dasar terus menurun? Menurut observasi di sebuah sekolah dasar di Surabaya, mayoritas siswa menunjukkan perilaku kurang menghormati guru dan teman sebayanya. Perilaku ini ditunjukkan melalui cara berbicara dengan bahasa yang tidak sopan, berkata kasar, memotong pembicaraan, dan mengabaikan aturan sekolah.
Rasa hormat dan etika dasar merupakan elemen penting dalam pembentukan karakter anak khususnya di usia sekolah dasar (SD). Namun, di era modern ini, fenomena pudarnya nilai-nilai tersebut semakin sering menjadi perhatian di masyarakat. Alhasil, hal ini menjadi kekhawatiran besar bagi orangtua. Anak-anak SD yang seharusnya berada dalam masa pembentukan karakter malah menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moral dasar.
Bukankah semua orang tua pasti ingin anaknya untuk bertumbuh menjadi pribadi yang dapat menunjukkan perilaku dan etika yang benar? Apabila tidak segera diatasi, permasalahan etika ini tidak hanya akan menghambat perkembangan karakter anak. Namun juga dapat berdampak negatif terhadap lingkungan sosial mereka. Apalagi, keberhasilan dalam menanamkan karakter pada anak di usia sekolah dasar (SD) menjadi tolok ukur untuk pembentukan kepribadian anak di jenjang pendidikan yang selanjutnya (Ansori, 2021).
Penyebab Utama Rasa Hormat Memudar
Faktor-faktor eksternal dan internal mencakup:
- Kurangnya pengawasan dan pembiasaan nilai-nilai moral di rumah.
- Lingkungan dan paparan media digital.
- Penggunaan teknologi smartphone yang minim pengawasan: Hal ini dapat menyebabkan anak-anak mengucapkan kata-kata kasar (Hidayat et al., 2021).
- Usia belum dewasa: Anak-anak pada usia ini belum memiliki pemahaman terhadap nilai-nilai moral seperti rasa hormat dan etika yang matang.
Langkah Praktis untuk Mengatasi Kurangnya Etika dan Hormat
Lingkungan sekitar berdampak besar dalam mempengaruhi perilaku siswa. Maka hal yang dapat dilakukan termasuk:
- Menerapkan Teori Bandura: Teori ini menekankan bahwa perilaku seorang siswa dapat dipelajari melalui observasi terhadap model-model sosial di lingkungan sekitar, baik itu guru, orang tua, atau teman sebaya (Sumianto, etc, 2024). </span>
- Anak Diajak Berdiskusi Bersama: Anak dapat diberikan sarana untuk mengingat perilaku positif melalui cerita bermakna serta diskusi ringan tentang pentingnya nilai-nilai ini. Guru dan orang tua secara konsisten mengingatkan anak akan pentingnya perilaku sopan. Karena proses mengingat ini adalah aspek terpenting dari suatu kejadian sehingga bisa dipanggil kembali dan digunakan ketika diperlukan di dalam situasi yang berbeda (Ansani & Samsir, 2022).</span>
- Anak Diajak untuk Membiasakan Perilaku Hormat: Anak juga perlu dilibatkan untuk mempraktikkan perilaku hormat dalam berbagai situasi. Nilai-nilai yang telah diajarkan perlu diperkuat melalui pembiasaan.
- Anak Dilibatkan dalam Aktivitas yang Melatih Perilaku Hormat: Selain itu karakter seseorang dipengaruhi oleh perilaku atau kebiasaan (Mamsaat, 2013). Dalam artian, anak-anak harus dilibatkan dalam aktivitas yang memungkinkan mereka untuk mempraktikkan perilaku hormat. Contohnya guru atau keluarga dapat mengadakan kegiatan bermain peran seperti anak menunjukkan perilaku memberi salam kepada guru dan berbicara dengan bahasa yang sopan kepada orangtua.</span>
Setelah anak berhasil mempraktekkan perilaku yang benar, penting juga untuk memberikan penghargaan kepada anak-anak yang berhasil menunjukkan perilaku positif. Penghargaan ini bisa berupa pujian atau pengakuan atas usaha mereka. Misalnya, ketika seorang anak berhasil menyapa dengan sopan atau mengikuti aturan di kelas. Menggunakan kata-kata positif atau isyarat seperti tepuk tangan, dapat meningkatkan motivasi belajar dan kepercayaan diri anak. (Usman & Rohmah, 2024). Terakhir namun tidak kalah penting, konsistensi dalam penerapan nilai-nilai ini harus dijaga.
Ditulis oleh:
Cheris Nathalie
Laurentia Tara Annika Roselani
(Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Ciputra Surabaya)
Dibimbing oleh:
Dr. Cicilia Larasati Rembulan, S.Psi, M.Psi, Psikolog.,
(Dosen Fakultas Psikologi Universitas Ciputra Surabaya)
