Bermain: Dunia Anak dan Tantangan Era Digital

Bagi anak-anak, bermain merupakan bagian alami dalam kehidupan mereka. Tak heran jika waktu bermain menjadi momen yang paling mereka tunggu-tunggu. Bermain bukan hanya sekedar hiburan bagi anak usia dini. Namun, melalui bermain, anak dapat mengembangkan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki.
Di era digital seperti sekarang, bentuk permainan anak pun ikut berubah. Perkembangan teknologi yang terjadi menjadikan anak-anak era ini sangat familiar dan sering menggunakan handphone. Handphone memberikan akses yang mudah bagi anak-anak terhadap berbagai game, dengan tampilan yang tentu saja menarik dan interaktif. Tidak sedikit anak yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam setiap harinya hanya untuk bermain game. Kondisi ini tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua untuk dapat mengatur waktu anak dengan optimal.
Mengapa anak bisa betah bermain game berjam-jam?
- Game digital dan game online memang dirancang untuk membuat pemainnya ingin terus bermain. Misalnya dengan tantangan yang bertahap, visual yang menarik, suara yang memicu semangat, dan fitur sosial yang membuat anak merasa terhubung dengan teman-temannya. Kondisi ini menjadikan anak secara tidak sadar terus menerus berada pada pola bermain yang sama dan berulang.
- Setiap kali anak berhasil menyelesaikan tantangan dalam game, maka mereka akan mendapatkan reward langsung. Seperti naik level, mendapatkan poin, ataupun membuka karakter baru. Hal ini tentu saja menyenangkan untuk anak, sehingga ia ingin mengulangi pengalaman tersebut lagi dan lagi. Lama-lama, anak jadi terbiasa mencari rasa senang dari game, bukan dari aktivitas lain.
- Anak yang sering merasa bosan, kesepian, atau tidak nyaman dengan lingkungannya cenderung mencari pelarian ke dunia game. Game bisa menjadi cara cepat untuk “mengalihkan diri” dari rasa tidak enak itu. Jika tidak ada alternatif kegiatan yang menyenangkan di dunia nyata, maka game akan menjadi pilihan utama.
Dampak bermain game tanpa pengawasan orang tua
Terlalu lama bermain game dapat berdampak negatif pada anak. Oleh karena itu, orang tua perlu menyadari bahwa tidak semua game cocok untuk dimainkan oleh anak. Terutama jika tidak ada pengawasan dan batasan yang diberikan. Banyak game yang ada saat ini mengandung konten yang tidak sesuai dengan usia perkembangan anak, seperti menampilkan kekerasan atau perilaku agresif. Seringnya terpapar dengan adegan seperti ini di game, membuat anak menjadi mudah marah, suka berkelahi, dan lainnya. Hal ini dikarenakan anak meniru tindakan dari dalam game. Itulah mengapa peran orang tua sangat penting untuk membimbing dan mengawasi aktivitas digital anak.
Apa yang bisa dilakukan orang tua?
1. Kenalkan Berbagai Jenis Permainan Non-Digital yang Tetap Seru dan Edukatif
Anak-anak tidak selalu membutuhkan layar untuk bersenang-senang. Orang tua bisa mengenalkan permainan seperti:
- Puzzle: Membantu anak melatih logika dan konsentrasi.
- Permainan peran (role-play): Misalnya bermain dokter-dokteran atau toko-tokoan yang melatih imajinasi dan empati.
- Balok susun atau lego: Melatih kreativitas, kemampuan motorik halus, serta problem solving.
- Permainan tradisional seperti congklak, petak umpet, atau lompat tali, yang juga melatih kerja sama dan fisik anak.
Selain menyenangkan, permainan ini lebih aman dan bisa menjadi sarana belajar yang menyenangkan.
2. Buat Jadwal Harian yang Seimbang, termasuk Waktu Bermain, Belajar, dan Istirahat
Anak usia dini butuh struktur agar mereka merasa aman dan tahu apa yang diharapkan. Orang tua bisa membuat jadwal sederhana dengan gambar atau warna yang menunjukkan:
- Jam makan
- Waktu belajar atau membaca buku
- Waktu bermain bebas (termasuk jika ingin bermain game yang sesuai usia)
- Waktu beristirahat atau tidur siang
Contoh: “Setelah makan siang, kita bermain puzzle 30 menit, lalu tidur siang ya. Nanti sore boleh main sepeda di luar.”
Dengan rutinitas yang konsisten, anak tidak akan merasa perlu ‘kabur’ ke dunia game karena bosan atau tidak tahu harus ngapain.
3. Ajak Anak Bermain Bersama, Terutama Permainan yang Melibatkan Gerak Tubuh, Kreativitas, dan Interaksi Sosial Langsung
Waktu berkualitas bersama orang tua sangat berarti bagi anak. Beberapa aktivitas yang bisa dilakukan bersama antara lain:
- Bermain bola atau bersepeda di halaman
- Membuat prakarya atau menggambar bersama
- Bermain drama kecil di rumah (misalnya pura-pura jadi astronot, guru, atau koki)
- Membaca cerita sambil berdialog
Aktivitas ini bukan hanya mempererat ikatan orang tua dan anak, tapi juga menyalurkan energi anak secara positif dan memperkaya pengalaman sosial mereka.
4. Berikan Perhatian dan Kasih Sayang, Karena Kebutuhan Emosional yang Tidak Terpenuhi Bisa Membuat Anak Mencari Pelarian ke Game
Kadang anak bermain game berlebihan bukan karena bosan, tapi karena ingin diperhatikan. Orang tua bisa lebih peka dengan:
- Menyempatkan waktu untuk mendengarkan cerita anak setiap hari
- Memberi pelukan, pujian, dan sentuhan fisik yang menenangkan
- Menunjukkan bahwa kehadiran anak dihargai dan dicintai apa adanya
Dengan terpenuhinya kebutuhan emosional, anak tidak merasa perlu mencari pelarian atau pengganti kasih sayang dari dunia maya.
Sebagai orang tua, kita tentu ingin memberikan yang terbaik untuk tumbuh kembang anak, termasuk dalam hal mendampingi mereka bermain. Dunia digital memang tak bisa dihindari. Tetapi dengan pengawasan yang bijak, kita bisa membantu anak menikmati teknologi tanpa kehilangan esensi bermain yang sebenarnya—yakni bermain yang membangun, mendekatkan, dan menumbuhkan.
Yuk, hadir lebih dekat dalam dunia anak dan jadikan momen bermain sebagai sarana untuk menguatkan ikatan, menumbuhkan keterampilan, dan membentuk karakter yang positif sejak dini.
Ditulis oleh Meilani Sandjaja, S.Psi., M.Psi., Psikolog.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Ciputra Surabaya
