Tantrum Anak Bisa Jadi Alarm Bahaya, Jangan Diabaikan!

tantrum anak

Tantrum adalah bagian normal dari perkembangan anak. Namun, tahukah Anda bahwa tantrum yang terlalu sering atau ekstrem bisa menjadi pertanda gangguan perkembangan atau masalah psikologis? Artikel ini akan membahas fakta mengejutkan tentang tantrum, penyebabnya, dan cara terbaik mengatasinya.

Tantrum: Wajar atau Berbahaya?

Tantrum adalah luapan emosi anak yang biasanya berupa menangis, menjerit, memukul, bahkan menggigit. Hal normal ini terjadi pada anak usia 12 bulan hingga 4 tahun, dengan frekuensi paling tinggi di usia 2 hingga 3 tahun. Namun, jika tantrum terlalu sering, berlangsung lebih dari 15 menit, atau terjadi lebih dari lima kali dalam sehari, ini bisa menjadi tanda adanya gangguan perkembangan.

Penelitian menunjukkan bahwa 87% anak usia 18-24 bulan mengalami tantrum, dan jumlah ini meningkat menjadi 91% pada usia 30-36 bulan. Seiring bertambahnya usia, frekuensi tantrum biasanya menurun. Namun, jika masih sering tantrum di usia 5 tahun atau lebih, Anda perlu waspada!

Mengapa Anak Tantrum?

Ada banyak penyebab tantrum, mulai dari kelelahan, rasa lapar, hingga frustasi karena belum bisa mengungkapkan keinginan mereka dengan kata-kata. Tantrum juga bisa terjadi karena keinginan untuk mandiri, tetapi masih membutuhkan perhatian orang tua. Menariknya, anak dengan gangguan bahasa atau autisme lebih sering mengalami tantrum karena kesulitan berkomunikasi.

Faktor lingkungan juga berperan. Anak yang melihat orang dewasa di sekitarnya sering berteriak atau menunjukkan perilaku agresif cenderung lebih mudah tantrum. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk menjadi contoh yang baik dalam mengelola emosi.

Tanda Bahaya: Kapan Harus Khawatir?

Tantrum memang normal, tetapi ada beberapa tanda yang mengindikasikan bahwa anak mungkin memerlukan evaluasi lebih lanjut:

  • Terjadi setiap hari setelah usia 3 tahun
  • Tantrum berlangsung lebih dari 15 menit
  • Sering terjadi lebih dari lima kali dalam sehari
  • Anak melukai diri sendiri atau orang lain
  • Merusak barang saat tantrum
  • Sulit ditenangkan bahkan setelah tantrum selesai
  • Frekuensi tantrum tidak berkurang, terutama setelah usia 4-5 tahun

Jika anak menunjukkan tanda-tanda ini, konsultasikan dengan psikolog anak atau dokter spesialis perkembangan anak untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Bagaimana Cara Mengatasi Tantrum?

Bersikaplah tenang dan jangan panik saat tantrum terjadi. Terapkan metode R.I.D.D untuk menangani tantrum dengan efektif:

  • Remain calm (Tetap tenang): Jangan membalas dengan kemarahan.
  • Ignore (Abaikan): Jika tantrum terjadi untuk menarik perhatian, jangan langsung menuruti keinginan anak.
  • Distract (Alihkan perhatian): Berikan mainan atau aktivitas lain yang bisa mengalihkan fokusnya.
  • Do not give in (Jangan menyerah): Konsisten dengan aturan yang sudah dibuat agar anak belajar mengelola emosinya dengan lebih baik.

Selain itu, Anda juga bisa menerapkan strategi C.A.L.M untuk mencegah tantrum:

  • Communicate: Komunikasikan perasaan anak dengan baik, misalnya saat anak marah karena mainannya direbut, bantu ia mengenali emosinya dengan berkata, “Kamu marah karena mainanmu diambil, ya?”
  • Attend to child’s needs: Penuhi kebutuhan anak, seperti istirahat cukup dan makan tepat waktu. 
  • Listen: Dengarkan anak dan beri pilihan agar mereka merasa memiliki kendali. Contohnya, jika anak menolak mengenakan baju, beri dia dua pilihan, “Kamu mau pakai baju merah atau biru?” Dengan begitu, anak merasa lebih berdaya dan tantrum bisa dicegah.
  • Maintain routine: Tetapkan rutinitas harian yang jelas agar anak merasa lebih aman dan tenang. Misalnya, jika waktu tidur selalu sama setiap malam, anak akan lebih mudah beradaptasi. Lalu tantrum karena kelelahan bisa dikurangi.

Dengan memahami penyebab dan cara menangani tantrum dengan tepat, orang tua bisa membantu anak mengembangkan keterampilan mengelola emosi dengan lebih baik. Jadi, jangan abaikan tantrum anak Anda! Perhatikan polanya dan cari solusi terbaik untuk mereka.

Jika Anda menemukan tanda-tanda bahaya dalam tantrum anak, segera konsultasikan dengan profesional. Ingat, setiap anak unik dan membutuhkan pendekatan yang berbeda dalam tumbuh kembangnya. 

Ditulis oleh Prisca Eunike, S.Psi., M.Psi., Psikolog.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Ciputra Surabaya