Berasal dari daerah yang cukup pelosok di Indonesia, tidak menyurutkan semangat Emanuel Supriono untuk berjuang menjadi seorang entrepreneur. Mahasiswa asal Mentawai, yang juga merupakan mahasiswa fakultas Psikologi Universitas Ciputra ini berhasil meraih penghargaan dalam UC Entrepreneurship Award 2014, untuk nominasi E-1 “The Groundbreaker”.

Emanuel saat menerima penghargaan The Groundbreaker
Emanuel saat menerima penghargaan The Groundbreaker

Perlu diketahui, award The Groundbreaker ini diperuntukkan bagi mahasiswa yang dinilai menunjukkan keuletan, kerja keras, dan berhasil menciptakan perubahan baik bagi dirinya maupun lingkungannya, selama 1 semester berproses di pembelajaran Entrepreneurship 1.

Emanuel memilih untuk memulai langkahnya sebagai entrepreneur dengan bergabung dalam vendor A Nation, salah satu pilihan vendors di E-1. Vendor A Nation membebaskan mahasiswanya untuk membuat inovasi sendiri, menentukan produk dan menjual sendiri, dengan catatan profit dari penjualannya juga akan disalurkan untuk kepentingan sosial melalui vendor-vendor yang tersedia, seperti Cleft Care (untuk penderita bibir sumbing), Sanggar Alang-Alang (Pendidikan Anak Jalanan), atau Habitat for Humanity.

Suasana UC Entrepreneurship Award 2014
Suasana UC Entrepreneurship Award 2014

Pada awalnya, sempat muncul rasa minder karena ia berasal dari daerah pelosok, pergi ke kota sebesar Surabaya tanpa tahu siapa-siapa, dan tanpa pengalaman berjualan sedikit pun. Di awal pembelajaran E1, ia mengaku belum tahu apa yang harus dilakukan untuk mencapai target omzet.

“Setiap kali disinggung dosen fasilitator tentang omzet, saya hanya bisa menjawab dengan tersenyum”, ungkapnya sambil tertawa. Tetapi, fasilitator-fasilitator tetap mendukung Noe, begitu ia akrab disapa, dan memberi saran untuk memulai dari apa yang Noe bisa dan apa yang Noe miliki saat ini. Akhirnya, dari saran tersebut, berbekal kemampuan memasak yang dimilikinya, ia memutuskan untuk mulai memproduksi dan memasarkan nasi rendang, dengan brand NENDANG SBY (Nasi Rendang Surabaya).

“Itupun belanja pinjam motor ibu kos, memasaknya pun juga pinjam alat-alat ibu kos”, ujar Noe.

Mulanya, ia hanya menawarkan kepada anggota-anggota komunitas gerejanya, baru ia mulai memasarkannya di lingkungan kampus. Tak disangka antusiasme konsumen ternyata luar biasa. Dalam 1 bulan Noe bisa menerima pesanan 60-80 boks. Di tengah perjalanannya, 2 teman kuliah yang juga konsumen Noe, Bagus dan Ridwan, menawarkan diri untuk bergabung mengembangkan bisnis rendang tersebut. Bersama kedua rekannya ini, proses usaha pun semakin berkembang.

IMG_8684

Berkat kegigihannya selama 1 semester, Noe berhasil meraup omzet mencapai Rp 3,8 juta. Atas tekadnya yang besar untuk mau belajar dan bekerja keras, Noe pun terpilih menjadi salah satu dari 3 nominees untuk meraih award groundbreaker E1.

“Di E1, saya diminta berjualan. Padahal, saya berasal dari keluarga petani sawit, kami cukup asing dengan kegiatan ‘menjual’.  Prinsip keluarga saya, jika memang sesuatu itu dibutuhkan orang lain dan kita bisa berikan, kenapa harus dijual. Tapi dari E1 ini, saya belajar untuk menjadi lebih percaya diri, lebih berani menawarkan produk saya, dan yang penting, saya banyak belajar membagi waktu”, lanjutnya kembali.

Noe menyampaikan, ia tidak menyangka bahwa dengan Nendang SBY, dia tidak hanya bisa menghasilkan omzet untuk mencapai target perkuliahan E1, tapi juga mendapat profit untuk dirinya sendiri dan juga bisa berbagi dengan orang lain. Profit yang dikumpulkannya, sebanyak 70% didonasikan untuk yayasan yang menangani penderita bibir sumbing, Cleft Care Foundation.

“Saya berencana, di E2 tetap akan bergerak di bidang kuliner, tetapi sekarang sedang memikirkan inovasi-inovasi menu lain yang bisa saya kembangkan”, pungkasnya.