UKM Debat Psikologi Universitas Ciputra atau yang lebih dikenal dengan nama bekennya, UC Psychodebaters, sudah berulang kali menjuarai lomba debat psikologi tingkat nasional. Tahun berganti tahun, generasi debaters pun berganti, namun tradisi menjadi juara tetap dijaga. Yang paling baru, UC Psychodebaters berhasil mendapatkan Juara III di Lomba Debat Psycurious 2016 yang diadakan Universitas Brawijaya.
Nah, mungkin banyak di antara kita yang penasaran dengan bagaimana mereka dapat terus konsisten mengukir prestasi. Apa sebenarnya yang menjadi kunci sukses UC Psychodebaters?

Pada Kamis, 9 Februari 2017, Pak Jony Eko Yulianto, S.Psi., M.A. selaku pembimbing UC Psychodebaters, hadir di SMA Margie Surabaya untuk membagikan jawaban pertanyaan tersebut. Diikuti oleh siswa-siswi kelas X, XI, XII SMA Margie, beliau bercerita mengenai pengalamannya mengembangkan tim debat Psikologi UC.
Membangun tim debat Psikologi UC, menurut beliau, dimulai dari membangun budaya ilmiah, yakni berpikir kritis, logis, dan sistematis. Budaya tersebut dibangun dengan membuat komunitas debat, lab riset, kompetisi debat internal, dan research week di lingkungan PSY UC. Sarana-sarana tersebut diciptakan agar mahasiswa punya wadah untuk terbiasa berpikir ilmiah.
Dengan modal budaya ilmiah tersebut, para anggota UC Psychodebaters kemudian rutin melakukan pertemuan. Pertemuan-pertemuan tersebut berisi materi, latihan, hingga simulasi lomba. Para anggota dilatih agar tak hanya mampu membangun argumen dengan logis dan sistematis, namun juga mampu men-deliver argumen dengan baik. Kemudian, menjelang lomba, latihan menjadi semakin intensif dan para debaters menjadi semakin fokus.

Di acara sharing tersebut, Pak Jony juga menghadirkan dua pentolan UC Psychodebaters saat ini, yakni Betari (PSY 2013) dan Siska (PSY 2015). Keduanya membagikan tips berdasarkan pengalaman mereka mengikuti lomba debat nasional. Siska, Best Speaker di Lomba Psychodebate UPH 2016, misalnya, memiliki 3 kunci utama ketika akan lomba.
Yang pertama ialah mindset, yaitu pemikiran bahwa kita dapat menang sehingga kita menjadi lebih tenang dan percaya diri ketika menghadapi lawan. Hal kedua yang kita perlukan adalah penguasaan teknik yang harus digunakan sesuai peran yang didapat dalam tim. Contohnya pembicara pertama harus “membuka jalan” agar juri paham dengan argumen tim, sedangkan pembicara ketiga bertugas untuk menegaskan kembali argumen tim dan “memenangkan” kembali tim walaupun sudah diserang tim lawan. Sedangkan, hal ketiga yang tidak kalah penting adalah all out, yaitu berlatih dengan tekun dan semaksimal mungkin.

Pada acara ini juga, para siswa bercerita mengenai pengalaman mereka dalam debat. “(Awalnya) mereka tidak yakin mereka bisa atau tidak. Tapi dari situ kami menyemangati mereka. Lalu mereka mulai bertekad untuk mencoba,” ujar Pak Jony ketika ditanya mengenai sesi sharing mengenai pengalaman melakukan debat ini. Tak hanya siswa, guru pun berbagi kisah mengenai bagaimana persiapan siswa SMA Margie ketika mengikuti Lomba Psychodebate Psychopreneur in Action 2016.
