Karin Binanto adalah seorang yang track recordnya cukup diperhitungkan di dunia perfilman nasional dan internasional.Bagaimana tidak, Karin Binanto merupakan salah satu co director dari berbagai film fenomenal seperti Habibi Ainun The Movie, Ayat-Ayat Cinta, hingga film yang dibintangi aktris kawakan Zoey Deschanel, 9 Summers 10 Autumn.

Dan 23 April lalu, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Ciputra beruntung kedatangan Kak Karin yang membagikan passion dan pengalamannya di kelas Psychology of Scriptwriting.
Kak Karin menceritakan bagaimana dunia film di balik layar, kerja keras dan perjuangan yang harus dilaluinya. Mulai dari magang selepas SMA, bagaimana ia dulu masih dipandang sebelah mata sebagai ‘anak magang’, diremehkan. Menurutnya, dunia film itu tidak seindah seperti yang dapat dengan mudah kita nikmati di layar lebar.
Banyak proses yang menuntut kerja keras dan persistensi bagi mereka yang memilih terjun di dunia film. Mulai dari menyusun ide, merekrut tim, mengcasting pemain, perencanaan teknis, hingga merencanakan detail-detail seperti lokasi dan wardrobe.
Mengenyam pendidikan bachelor degree bidang perfilman di Amerika, membuka kesempatan bagi Kak Karin untuk memupuk passionnya dengan dunia film. Kesempatan belajar dan terlibat dalam berbagai produksi film di luar negeri, semakin memompa semangat Kak Karin untuk berkarya.
Dalam kuliah tamu bertajuk “Creating Emotional Experiences in Scriptwriting”, Kak Karin menyampaikan bahwa script adalah jiwa dari sebuah karya film. Script adalah hal yang nantinya akan diterjemahkan secara visual oleh sutradara dan akan dinikmati oleh para penonton.
“Sehingga sebuah script itu bahasanya haruslah bahasa visual, karena seorang scriptwriter adalah partner dari sutradara”, jelasnya.
Tidak hanya bercerita, Kak Karin juga memutarkan beberapa film pendek karyanya. Yang menarik adalah, film-film tersebut selalu memiliki alur cerita yang tidak terduga, sederhana tetapi dalam secara emosi.
Kak Karin mengatakan ada 3 alasan yang membuat seseorang pergi menonton film : Ingin tertawa, ingin menangis, atau ingin ketakutan. “Kalau mereka pergi menonton dan tidak mengalami hal itu, maka sebuah film belum cukup berhasil”, pungkas Kak Karin.


