Banyaknya guru di Indonesia yang mengajukan perceraian merupakan fenomena yang diberitakan oleh banyak media beberapa tahun belakangan ini. Gugatan perceraian yang dilakukan oleh para guru dari berbagai wilayah di Indonesia terus meningkat. Lebih menarik lagi ternyata jumlah guru yang mengajukan perceraian tersebut lebih didominasi oleh guru perempuan. Beberapa pengamat menghubungkan masalah perceraian tersebut dengan peningkatan kesejahteraan guru melalui tunjangan sertifikasi yang diterimanya. Disinyalir, guru-guru perempuan tersebut mulai berani mengajukan perceraian karena merasa sudah lebih mapan dan dapat hidup mandiri tanpa kehadiran pasangannya.
Ada beberapa penyebab yang melatarbelakangi perceraian pada guru perempuan tersebut, namun yang paling sering diberitakan adalah ketidakpuasan terhadap suami yang berpenghasilan lebih kecil dan tidak banyak membantu dalam tugas rumah tangga. Beberapa kalangan menyayangkan sikap para guru yang seharusnya dapat menjadi panutan bagi para siswa, namun malah melakukan perceraian yang dapat menjadi teladan buruk. Meskipun demikian angka perceraian di kalangan profesi guru tetap saja tinggi dari tahun ke tahun.
Perceraian yang dilakukan oleh guru bisa jadi mencoreng sikap keteladanannya sebagai pendidik. Namun, seberapa jauh perceraian guru tersebut akan berdampak buruk bagi siswa ? Siswa yang menjadi korban perceraian orang tua memang akan lebih rentan terhadap penerimaan diri dan perkembangan psikologisnya. Namun jika yang bercerai adalah gurunya, dan bukan orang tuanya, apakah itu akan berdampak buruk pada para siswa ?

Sumber: shutterstock.com
Perceraian Sebagai Bukti Pengorbanan Profesi ?
Gifford Pinchot mengatakan bahwa para pekerja profesional, yang disebutnya sebagai intrapreneur, sangat rentan terhadap perceraian demi mencapai ambisi atau tujuan karirnya. Menurut Pinchot, perceraian bukan dianggap sebagai pengorbanan pribadi yang besar bagi profesional intrapreneur jika dibandingkan dengan karir yang sedang diperjuangkannya.
Guru yang rela bercerai dengan pasangannya demi memperjuangkan pendidikan siswa-siswinya tentu akan memiliki nilai tersendiri di mata anak didiknya. Erin Gruwell, guru teladan di Amerika Serikat yang kisah hidupnya diangkat dalam film “Freedom Writers” juga memutuskan bercerai dengan suaminya demi memperjuangkan hidup anak-anak didiknya yang nakal dan berasal dari kalangan marginal. Dalam film tersebut tidak terkesan adanya dampak buruk dari perceraian guru terhadap perkembangan mental siswa-siswinya. Bahkan sebaliknya, anak-anak didik Erin Gruwell menjadi lebih merasa diprioritaskan dan diperhatikan oleh gurunya, sehingga paradigma mereka berubah dan akhirnya bisa lulus sarjana. Erin Gruwell menjadi sosok “pahlawan” bagi anak-anak didiknya.
Pertanyaannya apakah guru-guru di Indonesia yang mengajukan gugatan perceraian tersebut lebih didasari oleh dorongan untuk memperjuangkan perkembangan anak didiknya atau lebih memperjuangkan kebebasan pribadinya ? Jika alasannya lebih didorong oleh kepentingan pribadi maka tidak akan ada nilai pengorbanan yang dirasakan oleh para anak didik. Mereka tidak akan dianggap sebagai “pahlawan” oleh anak-anak didiknya. Bahkan sebaliknya, proses sebelum dan sesudah perceraian yang menguras banyak emosi tersebut dapat berdampak buruk bagi anak-anak didik.
Rachel Gali Cinamon, peneliti konflik keluarga pada profesi guru, mengatakan bahwa awalnya banyak kaum perempuan memilih profesi guru karena beranggapan bahwa profesi ini memiliki waktu kerja yang lebih fleksibel sehingga mudah membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan. Namun faktanya tuntutan profesi guru tidak semudah itu. Apalagi jika para guru tersebut harus bekerja lebih keras untuk memenuhi tuntutan sertifikasi profesinya. Akibatnya hasil penelitian Cinamon menunjukkan banyak guru perempuan yang sukar membagi waktu dan mengalami konflik keluarga yang berdampak pada pekerjaannya. Konflik dalam keluarga, termasuk dengan pasangan hidup, membuat guru mengalami keletihan kerja yang berdampak negatif pada proses pembelajaran terhadap anak didiknya.
Apakah dengan bercerai maka para guru tersebut akan lebih bahagia sehingga proses pembelajaran terhadap anak didik menjadi lebih positif ? Belum tentu. Linda J. Waite, dkk. melakukan survei di Amerika terhadap pada dua kelompok, yaitu kelompok pasangan pernikahan yang merasa kurang bahagia dan akhirnya memutuskan untuk bercerai, dengan kelompok pasangan pernikahan yang juga merasa kurang bahagia namun memutuskan untuk tetap mempertahankan pernikahan. Hasilnya cukup mengejutkan. Ternyata pasangan yang bercerai tidak menjadi lebih bahagia ataupun dapat mengurangi depresi dibandingkan mereka yang berusaha mempertahankan pernikahan. Dengan demikian konflik masih terjadi meskipun telah bercerai, yaitu konflik dalam diri pribadi guru, sehingga tetap tidak membawa dampak positif terhadap anak didik.
Dampak Nilai Kehidupan Siswa
Selain dampak keletihan emosi pada guru yang bercerai, siswa-siswi juga dapat terkena dampak nilai kehidupan. Guru yang memutuskan untuk bercerai demi mendapatkan hidup yang lebih bahagia cenderung lebih mengutamakan nilai-nilai egosentris daripada nilai kesetiaan. Guru-guru tersebut juga mungkin lebih memprioritaskan karir daripada keutuhan keluarganya. Koroklu dan Aktamis menuliskan bahwa nilai-nilai pribadi yang dianut oleh seorang guru dapat berdampak pada perilaku anak didiknya. Dikuatirkan nilai-nilai tersebut juga akan ditiru secara tidak langsung oleh siswa-siswi di sekolah, mengutamakan prestasi dengan mengabaikan keluarga, mengutamakan kepentingan pribadi daripada kesetiakawanan.
Tentu saja opini ini tidak dapat digeneralisasikan pada semua guru di Indonesia yang memutuskan untuk bercerai. Masih banyak faktor lain yang sangat kompleks dalam melatarbelakangi perceraian guru, seperti perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, dsb. Namun apa pun faktor yang melatarbelakangi, setidaknya opini ini berusaha memberikan pertimbangan bagi para guru yang mengajukan perceraian, apakah keputusan tersebut sudah sejalan dengan panggilan sejati seorang pendidik ? Kiranya keputusan guru untuk bercerai tidak meruntuhkan semangat belajar dan nilai yang dianut anak didiknya.
Penulis:
Dr. Jimmy Ellya Kurniawan, S.Psi., M.Psi., Psikolog.
Dekan dan Kaprodi Fakultas Psikologi Universitas Ciputra
