Gangguan psikologis selalu menjadi pembahasan yang menarik di ilmu psikologi. Gangguan psikologis, dengan keberagaman jenisnya, juga menarik bagi masyarakat umum. Salah satu gangguan psikologis yang cukup unik adalah Dissociative Identity Disorder (DID). Dalam Bahasa Indonesia, DID sebagai gangguan kepribadian ganda.

Di dalam film maupun media lainnya, individu dengan kepribadian ganda kerap digambarkan sebagai sosok yang berbahaya yang menyakiti orang lain. Akan tetapi, sebenarnya tidak demikian. Sesungguhnya, individu dengan DID hidup seperti layaknya orang lain. Mereka bekerja dan menikah.

IMG_8930s

Hal itulah yang dikupas tuntas dalam Split Seminar yang diadakan oleh Student Union Psikologi UC pada Selasa, 22 Agustus 2017 yang lalu. Ketua Ikatan Psikologi Klinis Perwakilan Jawa Timur, Ibu Dra. Astrid Wiratna, Psikolog, hadir sebagai narasumber. Seminar ini diikuti oleh sekitar 90 peserta yang penasaran mengenai DID.

Di awal, Bu Astrid memaparkan mengenai apa itu DID, karakteristik, serta gejalanya. Beliau juga menjelaskan mengapa DID dapat terjadi pada seorang individu. Ternyata, DID dapat terbentuk karena trauma, seperti penyiksaan atau pelecehan berkepanjangan pada masa kanak-kanak. Hal ini mengakibatkan identitas individu terpecah.

Alter adalah sebutan untuk pecahan-pecahan identitas tersebut. Beberapa alter yang umum ditemui adalah apparently normal part (individu normal/asli), child alter, protector (pelindung), suicidal alter (identitas yang ingin bunuh diri). Setiap alter sangat berbeda dengan alter lain sehingga individu dapat seakan-akan menjadi orang yang berbeda pada situasi yang berbeda.

IMG_8940s

Lalu, menurut Bu Astrid, individu dengan DID biasanya akan didorong untuk menjalani treatment. Beberapa macam treatment yang dilakukan ialah psikoterapi, psikoanalisis, hipnosis, maupun pemberian obat, yang bertujuan agar terjadi integrasi atau penyatuan di antara alter-alter tersebut.

Menarik bukan?

Jennifer Aristasya Kusuma (PSY 2016) selaku PIC seminar ini mengaku sempat kaget karena ternyata banyak yang tertarik dengan topik ini. “80% pesertanya non-psikologi. Walau sempat ada kesalahan teknis, tetapi peserta ngomong kalau sudah belajar banyak dan tentunya tertarik untuk belajar lebih,” ungkap gadis yang menjabat sebagai anggota Departemen Edukasi Student Union Psikologi UC.

Menurut Mario, salah seorang peserta seminar, “Materi dibawakan dengan lancar oleh pembicaranya. Yang mengikuti seminar mudah mengerti apa yang dibicarakan. Meski sempat ada masalah teknis, seminar ini merupakan seminar yang memuaskan serta penting. Seminar ini meningkatkan kesadaran kita terhadap kepribadian ganda serta cara agar tidak mengkriminalisasi orang-orang yang memilikinya, khususnya di negara di mana isu psikologis sangat mudah diabaikan oleh masyarakat.”

IMG_8911s