
Apa yang sebenarnya perlu ada dalam tulisan kita agar bisa terpublikasi di media massa, Pak?
“Pertama, isunya harus baru. Indeks kewirausahaan global saya tulis seminggu setelah dia keluar. Indeks inovasi global saya tulis dua minggu setelah dia keluar.
Salah satu kunci yang membuat sebuah tulisan terpublikasi adalah momentumnya tepat. Dia harus benar-benar berita yang baru saja dirilis dan punya efek global.
Tips lain yang dapat saya berikan adalah tulislah respons dari tajuk rencana suatu surat kabar. Di halaman pertama surat kabar, dewan editor akan menulis sebuah tajuk rencana yang menceritakan apa concern surat kabar tersebut pada hari itu. Nah, itu artinya, ketika kita merespons tulisan tersebut, kita sadar dengan concern mereka. Tapi, harus cepat menulisnya.
Selain itu, di sini, kepekaan sangat diperlukan. Maka dari itu, saya mendorong mahasiswa saya untuk mempelajari teori psikologi dengan baik-baik karena semua teori psikologi bisa menjelaskan seluruh perilaku manusia. Supaya ketika kita melihat fenomena, kita langsung peka fenomena itu bisa dijelaskan dengan teori apa.
Selain itu, jika kita ingin mempublikasikan tulisan di surat kabar, saya menyarankan untuk membaca surat kabar tersebut. Bacalah surat kabar di mana kamu ingin tulisanmu terpublikasi. Bacalah opini-opini di surat kabar tersebut seperti apa. Kenapa? Karena ada yang dinamakan gaya selingkung, itu bicara tentang style menulis. Koran punya style masing-masing, yang tidak bisa dijelaskan seperti apa, tapi kita bisa merasakannya. Menulislah seperti itu.
Ketika isunya adalah isu global, sedang aktual, kemudian sesuai dengan gaya selingkungnya, besar kemungkinan kita akan diterima. Apalagi jika memang expertise kita di sana.”
Bagaimana untuk tingkat yang lebih muda, seperti anak SMA, apa yang bisa dilakukan untuk menulis di media massa?
“Saya merasa kita tetap bisa berkontribusi banyak di media massa, dengan beberapa cara:
Satu, melalui kolom citizen reporter. Beberapa media itu punya kolom citizen reporter, yang tidak mensyaratkan penulisnya adalah ahli. Isinya liputan kegiatan, namun harus unik. Anak SMA kan sering melakukan kegiatan yang unik dan asik. Kirimkan foto terbaik beserta narasi 400-600 kata ke media tersebut. Menurut saya, itu kesempatan yang baik.
Cara yang kedua itu resensi buku. Resensi buku adalah pandangan apakah suatu buku itu bagus atau tidak. Setelah membaca buku, tulislah kesan kalian apa, buku itu bagusnya dimana, kekurangannya apa, buku itu menariknya di mana. Beberapa media pnya kolom resensi, dan tidak mensyaratkan penulisnya adalah expert.
Ketiga, cerpen. Beberapa media, khususnya saat weekend, punya kolom cerpen. Cerpen-cerpen ini dimuat dan memberikan honor juga. Jika mau untuk melatih menulis, latihlah dengan menulis cerpen, karena itu mudah. Cerpen juga bisa diseriusi dengan baik.
Selain itu, beberapa harian lain memunculkan puisi. Anak-anak SMA bisa mengaktualisasi diri dengan menulis puisi.”
“Menulis dengan serius itu butuh waktu. Tapi, menulis itu bisa dimulai sejak dini.” – Jony Eko Yulianto
