Petuah Leluhur: Relevan untuk Pernikahan Kini?

Menikah bukan hanya tentang dua individu yang saling mencintai, tetapi juga tentang menyatukan nilai, tradisi, dan harapan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam banyak budaya, termasuk di Indonesia, petuah leluhur sering menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Namun, seiring dengan perubahan zaman, bagaimana relevansi petuah tersebut dalam pernikahan masa kini?
Petuah Leluhur tentang Pernikahan
Sejak dahulu, orang tua dan sesepuh sering memberikan nasihat kepada pasangan yang akan menikah. Dalam budaya Jawa, misalnya, ada ungkapan “rukun agawe santosa, crah agawe bubrah” yang berarti kerukunan membawa kekuatan, sedangkan pertengkaran membawa kehancuran. Prinsip ini mengajarkan bahwa dalam pernikahan, membangun keharmonisan lebih penting daripada mencari siapa yang benar atau salah.
Di banyak budaya Nusantara, menikah juga sering dikaitkan dengan konsep gotong royong. Pasangan suami istri diharapkan untuk saling membantu dalam mengarungi kehidupan, sebagaimana dalam pepatah Minangkabau “duduak surang basampik-sampik, duduak basamo balapang-lapang” yang berarti segala sesuatu akan lebih ringan jika dikerjakan bersama.
Tantangan Pernikahan Masa Kini
Meskipun petuah leluhur masih memiliki nilai yang mendalam, tantangan pernikahan masa kini berbeda dari masa lalu. Kini, pasangan suami istri menghadapi tuntutan ekonomi, peran gender yang lebih fleksibel, serta perubahan gaya komunikasi akibat teknologi. Dalam masyarakat yang semakin individualis, menjaga keseimbangan antara kebebasan pribadi dan komitmen terhadap pasangan menjadi lebih kompleks.
Di sisi lain, konsep seperti gotong royong dalam rumah tangga tetap relevan, tetapi bentuknya bisa berbeda. Jika dulu pembagian peran suami dan istri lebih tradisional, kini banyak pasangan yang berbagi tanggung jawab domestik dan pengasuhan anak secara lebih setara.
Mengadaptasi Nilai-Nilai Budaya dalam Pernikahan
Alih-alih meninggalkan nilai-nilai lama, pasangan modern dapat mengambil hikmah dari petuah leluhur dan menyesuaikannya dengan kehidupan pernikahan masa kini. Prinsip seperti komunikasi yang terbuka, saling menghormati, dan kebersamaan tetap menjadi fondasi penting dalam membangun rumah tangga yang harmonis.
Pada akhirnya, menikah adalah tentang perjalanan bersama. Tradisi dan budaya memberikan panduan, tetapi pasanganlah yang menentukan bagaimana mereka ingin menjalani pernikahan dengan nilai yang tetap relevan dalam kehidupan mereka.
Ditulis oleh Jony Eko Yulianto, S.Psi., M.A., Ph.D.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Ciputra Surabaya
