Oleh : Angella Glory, Finley Butje, Veronika Claudia (Psy 2013)
“Apa yang sesungguhnya membuat pria/wanita jatuh cinta”
Jatuh cinta merupakan salah satu topik pembicaraan yang paling sering didiskusikan manusia (Khususnya kaum remaja) di mana-mana. Ketikajatuhcintatubuhkitakhususnyaotakmerespondenganmengeluarkanhormon endorphin, oxytocin, dan dopamine yang membuatkitamerasakankebahagiaandankegembiraantetapijugadi saat bersamaan jatuhcintadapat menciptakan sakit hati dan putus asa yang amat hebat. Jatuh cinta selalu menjadi tema umum dalam musik, novel, film, karya sastra, dan puisi. Kebanyakan dari kita tumbuh dan dibesarkan dengan keyakinan “suatu hari nanti kita akan dipersatukan dengan manusia istimewa yang ditakdirkan untuk menjalani hidup bersama dengan kita selamanya.”
Beberapa tahun terakhir, para ilmuwan dari berbagai latar belakang berusaha memperdalam pemahaman kita mengenai jatuh cinta. Inilah beberapa teori hasil temuan mereka.
1. Teori Biologik
Menurut teori ini, kita cenderung jatuh cinta pada orang yang dapat meningkatkan kelangsungan hidup kita. Para pria tertarik dengan wanita yang memiliki bentuk tubuh ideal, kulit yang putih, rambut yang mengilap, dan wajah yang cantik. Para wanita tertarik dengan pria yang kaya akan sumber daya.Hal initerkaitdenganpenelitian Braxton-Davis (2010) yang menyatakanpenampilanfisikmempengaruhicintadanketertarikanterhadapseseorang.
2. Teori persamaan
Dasar teori persamaan, kita cenderung jatuh cinta pada orang yang lebih atau kurang sama dari kita. Sesuaidenganpenelitian yang dilakukanHazan& Shaver (1987) yang mengatakanbahwaadanyapersamaanmembuatkitalebihmudahdekatataulekatdenganseseorangdandarikelekatanitudapatmenimbulkanperasaancintasatusama lain. Saat kita melakukan kontak sosial pikiran kita akan cenderungmengukur nilai orang-orang yang kita jumpai. Jika hasilnya kurang lebih sama, bel berbunyi, tawar-menawar dimulai, dan terjadilah jatuh cinta.
3. Teori persona
Kita semua memiliki topeng (persona), yaitu wajah yang kita tunjukkan ke orang lain. Apa yang orang pikirkan mengenai diri kita sangatlah penting bagi kita. Teori persona menyatakan kita cenderung jatuh cinta kepada seseorang yang dapat meningkatkan citra dan harga diri kita.
Ketiga teori di atas sangatlah subjektif, sebagian orang berpendapat salah satu atau ketiga teori di atas itu benar, karena pengalaman hidupnya dalam jatuh cinta tidak jauh berbeda dari isi teori. Namun kami menemukan teori yang benar-benar unik, yaitu:
- Teori luka masa kecil
Teori ini ditemukan oleh Harville Hendrix, PH.D dari hasil pengamatannya dalam menangani klien yang mengalami masalah hubungan rumah tangga. Menurut Hendrix alasan utama kita jatuh cinta pada seseorang, bukan karena mereka cantik, muda, memiliki pekerjaan yang mengesankan, memiliki nilai yang sama dengan kita, atau memiliki watak yang baik. Kita jatuh cinta karena otak lama (alam bawah sadar) kita keliru melihat pasangan anda dengan orang tua anda! Otak lama kita percaya bahwa pada akhirnya ia menemukan calon yang tepat untuk menyembuhkan kerusakan psikis dan emosi yang anda alami ketika kecil.
Sumber referensi:
Braxton-Davis, Princess., (2010). “The Social Psychology of Love and Attraction,” McNair Scholars Journal: Vol. 14: Iss. 1, Article 2.
Chapman, Heather M.,(2011). “Love: A Biological, Psychological and Philosophical Study”. Senior Honors Projects.Paper 254.
H.A Horstein, E. Fisch, dan Peter Kilworth, “The Search for Social Physics”, Connections 20, 1 (1997): 16-43.
Hazan, C., dan Shaver, P., (1987).Romantic Love Conceptualized as an Attachment Process. Journal of Personality and Social Psychology, Vol. 52, No. 3, 511-524.
Hendrix, Harville (2008). The Magic of Love: bagaimana mendapatkan dan mempertahankan cinta di abad ini. Jakarta, Ufuk Publishing Group.
Jung, C. G (1969). Two Essay in AnalyticalPschology, in Collected Work, Vol 7, trans. R. F. C. Hull, Bollingen Series XX, Princenton University Press, Princeton, New Jersey.
Pease, Allan dan Barbara (2010). Why Men want Sex and Women need Love: kiat mempermulus hubungan cinta dengan memahami kebutuhan dasar pasangan. Jakarta, Gramedia Pustaka.

