Stigma Kesehatan Mental: Akses ke Bantuan Psikologis

stigma kesehatan mental

“Aku takut dianggap gila kalau pergi ke psikolog.”

Ujar seorang remaja yang tengah berjuang melawan depresi. Ketakutan ini nyata dan dirasakan banyak orang di Indonesia. Akibat stigma kuat di masyarakat, ribuan orang dengan gangguan mental lebih memilih bungkam daripada meminta pertolongan profesional.

Stigma? Apa itu?

Stigma kesehatan mental merupakan pandangan negatif atau pelabelan yang diberikan masyarakat kepada seseorang yang mengalami gangguan mental. Di Indonesia, stigma ini masih sangat kuat dan mempengaruhi kehidupan sehari-hari penderitanya. Dalam masyarakat, stigma itu sendiri merupakan sebuah momok yang menakutkan, bahkan sesuatu yang memalukan. Akibatnya, penderita gangguan mental tidak hanya merasa terasingkan, tetapi juga kesulitan untuk mencari bantuan karena takut di label negatif oleh lingkungan.

Selain itu, stigma yang melekat terhadap penderita gangguan mental tidak sekadar isu moral. Dampaknya nyata dan merusak kehidupan mereka secara psikologis dan sosial. Akibat stigma ini, penderita sering kali mengalami penurunan harga diri, rasa malu berlebihan, isolasi sosial, bahkan kesulitan mendapatkan pekerjaan. Lebih jauh lagi, banyak individu enggan mencari bantuan profesional karena takut dicap negatif oleh masyarakat sekitar.

Kesehatan Mental di Indonesia

Kenyataan ini tentunya berdasar dan didukung dari sumber yang ada. Misalnya saja, menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, menunjukkan bahwa lebih dari 19 juta penduduk Indonesia mengalami gangguan mental emosional. Ironisnya, hanya sekitar 2,45%-4,67% dari mereka yang memutuskan untuk mencari pertolongan profesional. Angka ini jelas menunjukkan bahwa stigma telah menghambat ribuan bahkan jutaan orang dalam mengakses layanan yang mereka butuhkan.

Selain itu, di kalangan remaja Indonesia, tingkat kejadian gejala depresi mencapai angka mengkhawatirkan, yaitu 1 dari 3 remaja berusia 15 hingga 19 tahun memiliki setidaknya satu gejala depresi. Akan tetapi, banyak dari mereka yang tidak mengakses layanan kesehatan mental akibat takut dicap sebagai orang yang bermasalah (Antara, 2021). Hal ini diperburuk dengan keterbatasannya tenaga profesional dalam kesehatan mental. Dikutip dari data kementerian kesehatan pada tahun 2019, menyatakan bahwa Hingga Oktober 2021, jumlah psikiater di Indonesia hanya 1.053 orang, dan psikolog klinis aktif berjumlah 2.917 orang. Ini berarti, satu psikiater harus melayani sekitar 250.000 penduduk, dan satu psikolog klinis melayani sekitar 90.000 penduduk, jauh dari rasio ideal yang disarankan oleh WHO.

Masalah Serius dalam Pencarian Bantuan Profesional

Dengan demikian, Stigma terhadap kesehatan mental merupakan permasalahan yang mendesak untuk diatasi. Berdasarkan data yang telah dipaparkan sebelumnya, terlihat jelas bahwa stigma ini bukan hanya sekadar masalah persepsi yang keliru, tetapi benar-benar memiliki dampak yang signifikan terhadap kehidupan masyarakat. Jika dibiarkan, stigma ini akan terus menghalangi jutaan penderita gangguan mental untuk mendapatkan pertolongan yang tepat, memperbesar risiko munculnya gangguan yang lebih berat, bahkan berpotensi meningkatkan angka kasus bunuh diri dan menurunkan kualitas hidup masyarakat secara umum.

Rendahnya angka pencarian bantuan profesional (kurang dari 5%) dibandingkan jumlah penderita gangguan mental yang begitu besar, serta adanya kasus pemasungan ribuan penderita, menunjukkan bahwa stigma telah menciptakan situasi darurat yang harus segera ditangani. Keterbatasan tenaga profesional, stigma sosial yang kuat, serta kurangnya pemahaman masyarakat menciptakan lingkaran setan yang semakin memperparah kondisi ini. Tanpa perubahan nyata dari berbagai pihak, kondisi ini akan terus berlanjut, menyebabkan penderitaan individu, keluarga, dan kerugian sosial-ekonomi dalam skala yang luas. Oleh karena itu, masyarakat harus segera menyadari bahwa stigma bukan lagi isu sederhana, ini adalah masalah serius yang menuntut solusi nyata dan tindakan cepat dari semua pihak.

Stigma Negatif terkait Kesehatan Mental

Dari apa yang sudah dibahas sebelumnya, terkait dengan stigma negatif. Hal ini berkaitan dengan bagaimana cara masyarakat melakukan “labeling”. Ketika seseorang diberi label negatif seperti ‘gila’ atau ‘tidak normal’,  individu tersebut tidak hanya mendapatkan perlakuan berbeda dari lingkungannya, tetapi juga mulai memandang dirinya negatif. Hal ini membuat penderita merasa terisolasi dan cenderung menghindari bantuan profesional karena takut label tersebut semakin melekat.

Stigma buruk mengenai kesehatan mental memanglah suatu permasalahan yang harus segera diselesaikan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya jika permasalahan ini tidak segera diselesaikan, maka akan berakibat fatal bagi penderitanya. Melihat dampak yang ditimbulkan dari permasalahan ini, solusi yang tepat perlu diterapkan guna menciptakan perubahan yang positif. 

Solusi untuk Mengurangi Stigma

Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah dengan memberikan edukasi dan kampanye kesadaran melalui seminar maupun media sosial. Kampanye ini bisa dilakukan di sekolah, universitas, dan masyarakat untuk mengurangi stigma terhadap penderita kesehatan mental. Selain itu, kampanye juga bertujuan meyakinkan penderita bahwa pergi ke psikolog bukanlah hal yang perlu ditakuti. Media sosial dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi yang benar guna melawan mitos dan kesalahpahaman tentang kesehatan mental. 

Tidak hanya itu saja, pemberian emotional support juga menjadi salah satu hal yang diperlukan bagi penderitanya. Karena dengan diberikannya hal tersebut, dapat membantu penderitanya untuk mengatasi rasa kesepiannya. Dan juga dapat meningkatkan kepercayaan diri serta motivasi dari penderitanya. Dengan begitu, penderitanya dapat merasa jika ada yang memperhatikannya dan peduli dengannya.

Dari apa yang sudah dijelaskan sebelumnya, jelas terlihat bahwa stigma yang buruk terhadap kesehatan mental bukanlah sekedar isu yang biasa saja, melainkan masalah serius yang harus segera ditangani. Label negatif yang diberikan oleh masyarakat hanya memperburuk kondisi penderita, membuat penderita merasa semakin terisolasi dan enggan untuk pergi menemui professional.

Ditulis Oleh:
Devin Sebastian Tjahjo
Yohanes Ega Vishnu Christian

(Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Ciputra Surabaya)

Dibimbing oleh:
Dr. Ersa Lanang Sanjaya, S.Psi., M.Si.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Ciputra Surabaya