Penulis : Daniella Stephani & Inggrid Tanesha (Psy 2013)

tgs228986

Setiap manusia pasti pernah berbuah salah, entah disengaja maupun tidak disengaja. Terkadang untuk menutupi kesalahan tersebut manusia cenderung untuk berbohong. Tidak hanya untuk menutupi kesalahan saja, namun terkadang manusia terlalu ‘pintar’ berbohong demi menghindari dari rasa malu, atau mempunyai alasan sendiri berbohong demi kebaikan. Berbohong pada dasarnya tidak ada yang baik, sekali berbohong sama saja berbohong, tidak ada istilah ‘berbohong hanya sedikit’ karena kebohongan sama saja, walaupun kecil atau besar sama saja berbohong. Berbohong bisa juga dikatakan sebagai kejahatan. Mengapa? Karena kebohongan itu sebenarnya merupakan tindakan seseorang yang menyatakan hal yang tidak benar. Menurut Poedjawijakna dalam Hidayah, Ghazali & Roekhan (2012) berbohong adalah mengatakan dengan berbagai cara sesuatu yang tidak sebenarnya dia yakini atau yang tidak sebenarnya terjadi.

  • Manfaat mengetahui kebohongan

Terhindar dari kerugian terutama yang menyangkut kepentingan banyak orang. Beberapa contohnya dalam hal bisnis, kriminalitas, hubungan, dan lain sebagainya.menurut Octarina, Tritoasmoro & Rizal (2012)

Mana ada orang yang suka dibohongin? Kebohongan bisa menimbulkan masalah baru bahkan melukai hati seseorang. Maka dari itu kita perlu mengetahui cara untuk mendeteksi kebohongan seseorang. Jaman sekarang sudah lebih modern, bahkan kebohongan bisa deteksi dari sebuah alat elektronik. Dalam sebuah artikel terdapat pengertian bahwa alat pendeteksi kebohongan atau yang disebut sebagai poligraph tersebut bisa digunakan untuk melihat ritme napas, keringat, detak jantung, dan tekanan darah (Gunadi & Harjoko, 2012). Namun untuk cara yang lebih praktis dan ekonomis kita bisa mendeteksi kebohongan seseorang dari tatapan matanya, perilakunya dan sikapnya,cara bernafasnya, dan kata-kata yang mereka keluarkan. Menurut bulletin dari FBI berikut perilaku non verbal dan verbal yang menunjukan seseorang berbohong (Navarro & Schafer, 2001).

  • Perilaku bohong dapat diamati melalui :

The Eyes

Mata tidak hanya befungsi untuk melihat namun mata juga berfungsi mengkomunikasikan otak yang sedang melakukan percakapan internal. Salah satu yang harus diperhatikan adalah gerak-gerik mata. Kebohongan biasanya bia dilihat dari gerak gerik mata ketika seseorang sedang mengarang cerita atau sedang mengingat-ingat sesuatu. Jika orang sedang mengarang cerita maka bola matanya cenderung mengarah dan bergerak ke kanan, kebalikan dengan orang kidal. Orang kidal berkedip lebih cepat ketika dia berbohong. Saat berbohong dan ketika tidak menyetujui sesuatu orang cenderung memejamkan kelopak mata lebih lama saat berkedip.

Head and body Movement

Orang cenderung mengeluarkan keringat lebih banyak saat berbohong. Tanda lainnya seperti wajah memerah, lebih banyak menelah air ludah dan tubuh bergetar atau bahkan gerak gerik yang tidak bisa diam seperti tubuhnya yang tidak bisa diam, memainkan hal disekelilingnya seperti bermain tangan, bermain bolpen atau tisu. Hal ini dikarenakan tubuh mengekspresikan perasaan cemas karena takut ketahuan. Tubuh terlihat condong menjauh dari lawan biacaranya karena tidak ingin mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dikatakan.

Mouth and Breathing

Orang yang berbohong cenderung bernafas lebih cepat, mulut terlihat tampak kering sehingga membuatnya lebih banyak menelah ludah. Hal ini terjadi karena jantung berdetak cepat, sehingga paru-paru membutuhkan lebih banyak udara.

Hands and Arm

Mereka yang merasa tidak nyaman karena berbohong lebih terlihat tidak bisa bergerak dengan leluasa, jarang melakukan gerakan tangan, jarang menunjuk karena tidak

Verbal Cues

Perhatikan suara si pembohong. Mereka lebih cepat berbicara atau bahkan lebih lambat dari biasanya. Hal ini disebabkan ketegangan yang tinggi membuat nada suaranya lebih keras dan bahkan terlihat gemetar. Mereka berbicara terlalu detail karena dia gelisah dan berusaha membuat lawan bicara mempercayainya. Salah satu taktiknya untuk mengindar dengan cara menanyakan pertanyaan yang berulang-ulang, dan ucapannya terlebelit-belit.

 

Daftar Pustaka :

Gunadi, A., Harjoko, A. (2012). Telaah metode-metode pendeteksi kebohongan. IJCCS, 6(2), 35-46