Orang yang telah bekerja dan berkeluarga seringkali kesulitan menyeimbangkan kehidupan kerja dengan kehidupan di rumah. Masalah di kantor dapat mempengaruhi pengalaman seseorang saat berada di rumah dan sebaliknya, masalah di rumah juga dapat mempengaruhi kinerja seseorang di tempat kerja. Bekerja lembur juga dapat menimbulkan konflik dimana keluarga merasa individu tidak menyediakan waktu untuk keluarga. Topik inilah yang diangkat dalam kuliah tamu mata kuliah Industrial and Organizational Psychology dan Psychology of Occupational Wellness pada Kamis, 8 Maret 2018 yang lalu. Kuliah tamu ini diikuti oleh mahasiswa PSY UC dari berbagai angkatan aktif.

Dengan tema ceramah “Work-Family Conflict and Work-Family Balance”, Fakultas Psikologi Universitas Ciputra (PSY UC) mengundang Ibu Dr. Artiawati Mawardi, MAppPsych, Psikolog, seorang pakar di bidang psikologi industri dan organisasi. Selama karirnya, beliau aktif melakukan penelitian mengenai work-family conflict dan work-family balance bersama peneliti dari seluruh dunia. Beliau juga sering mempublikasikan hasil penelitiannya di konferensi psikologi.

Menurut Ibu Artiawati, orang dewasa memiliki 2 domain yang tak bisa dipisahkan, yaitu pekerjaan dan keluarga. Kedua peran yang dimiliki individu memiliki tuntutannya masing-masing serta saling mempengaruhi. Konflik interperan ini disebut sebagai work-family conflict (konflik kerja-keluarga). Ada juga konsep work-family balance dimana individu berusaha mencari keseimbangan kerja dan keluarga, kondisi dimana ia puas terhadap keduanya.
Dalam kuliah tamu ini, Ibu Artiawati juga membagikan cara meningkatkan keyakinan bahwa diri mampu mengatasi konflik kerja-keluarga, cara memperoleh dukungan sosial, serta cara memberikan dukungan sosial untuk pekerja.

Mahasiswa PSY UC yang mengikuti kuliah tamu ini mengaku puas. “Aku belajar banyak sih, kalau dalam suatu keluarga yang keduanya bekerja itu harus saling mendukung dan harus ada equality, suami menghargai kebebasan istri dan istri juga mendukung suami. Kerja itu kan udah stres, kalau pasangan gak mendukung kan jauh lebih stres,” ungkap Ika Raharja (PSY 2016).
Selain Ika, Adhisty (PSY 2015) juga merasakan manfaat kuliah tamu ini. “Pengalaman penelitian dari pembicaranya itu keren banget. Aku baru tahu ada work-family conflict efficacy (WFCSF). Terus yang paling aku suka itu kita boleh belajar bagaimana cara meningkatkan WFCSF itu sih, itu menurutku paling menarik dan bermanfaat.”

