Ilmu psikologi terkadang dianggap sebagai ilmu yang tidak terlalu ng-IPA dan hanya berbicara soal kepribadian serta sifat seseorang. Padahal, ada beberapa cabang ilmu psikologi yang cukup erat berkaitan dengan anatomi manusia. Salah satunya ialah Cognitive Neuroscience.
Hadir dalam kuliah tamu bertajuk “A Crash Course in Cognitive Neuroscience” pada Jumat, 3 Juni 2016 yang lalu, Pak Wisnu Wiradhany membagikan sedikit ilmunya mengenai apa itu cognitive neuroscience dan metode-metode pengukuran dalam bidang tersebut. Menurut akademisi yang sedang mengambil program doctor di Experimental Psychology/Behavioral Cognitive Neuroscience, University of Groningen, Belanda, cognitive neuroscience adalah cabang ilmu mempelajari mengenai proses biologis dan aspek-aspek yang mendasari kognisi. Penelitian yang dilakukan departemennya berkaitan dengan atensi, pengambilan keputusan, dan proses-proses kognitif lainnya.

Dalam keseharian mereka, para peneliti yang bergerak di cabang ilmu ini tak jauh-jauh dari alat-alat canggih, seperti EEG (electroencephalogram), software eye-tracking, dan fMRI. EEG digunakan untuk merekam aktivitas elektrik otak dengan menggunakan elektroda. Software eye-tracking digunakan untuk mendeteksi gerakan mata. Sedangkan, fMRI dapat dipakai untuk merekam aktivitas otak dengan menggunakan medan magnet.

Pada kuliah tamu ini, ada salah satu fakta menarik yang dipaparkan Pak Wisnu, yakni mengenai melamun. Ternyata, melamun memiliki nama keren, yaitu mind wandering. Saat kita tidak sedang melakukan apa-apa, otak tetap aktif dan kita mengalami kondisir melamun. Melamun dikatakan penting karena pada saat kita melamun, kita sebenarnya sedang melakukan simulasi, entah itu menarik informasi yang sudah terjadi sebelumnya ataupun kejadian yang akan datang. Selain itu, simulasi penting untuk survival. Mengapa? Bayangkan saja kalau kita tidak bisa melakukan simulasi mentally dan harus serba mencoba segala sesuatu… Bisa-bisa kita harus selalu mencoba hal-hal ekstrem terlebih dahulu baru kita mengerti bahwa hal tersebut beresiko dan berbahaya.
So, gimana PSYers? Cognitive neuroscience menarik bukan? … dan pastinya, bisa jadi pertimbangan buat lanjut kuliah setelah S1 di PSY UC!
