Pernah mendengar ungkapan, “cintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain”? Atau kamu pernah “kehilangan” diri kamu sendiri ketika mencintai orang lain, seperti dalam lagu I Lost Myself in Loving You milik James Miller?
Well, ada banyak faktor yang dapat menjadi penyebab kita “terhilang” ketika berada dalam satu hubungan, atau ketika kita mencintai orang lain. Salah satu fenomena yang sering terjadi adalah karena kurangnya kasih sayang kepada diri kita sendiri. Loh? Kan kita mencintai orang lain, kenapa malah cinta ke diri sendiri yang kurang?
Faktanya, seseorang yang tidak memiliki penghargaan diri yang tinggi akan memiliki pemikiran bahwa mereka tidak pantas untuk bahagia, yang akhirnya berdampak negatif pada diri individu itu sendiri. Begitu pula dengan penelitian yang dilakukan oleh Grace et al. (2018), yang mengatakan bahwa mereka dengan self-esteem yang rendah cenderung merasa tidak puas dalam hubungannya dan sering kali terjebak dalam toxic relationship. Toxic relationship sendiri ditandai dengan adanya rasa tidak aman dan nyaman dalam menjalani suatu hubungan (Solferino dan Tessitore, 2021).
Sebagai kebalikannya, Julianto et al. (2020) mengemukakan bahwa kepuasan dalam hubungan justru sangat erat kaitannya dengan penghargaan diri sendiri loh. Ketika kita merasa puas dengan diri kita sendiri, hal ini mendorong kita untuk bisa lebih memahami pasangan dan lebih terlibat dalam hubungan romantis. Tidak hanya itu, individu yang memiliki penghargaan diri yang tinggi juga terbukti lebih bisa meregulasi emosi dan menangani permasalahan secara asertif dan terbuka dengan pasangannya. Dengan kata lain, seseorang yang mencintai dirinya sendiri dapat mencintai orang lain secara lebih maksimal.
Self love juga termasuk langkah awal dalam mencintai orang lain. Ketika kita memiliki self love yang cukup, kita dapat menilai perlakuan yang kita terima dari orang lain dengan lebih objektif. Sebagai contoh, ketika mulai dihadapkan dengan hubungan yang toxic, individu yang memiliki self love dapat memberi alarm kepada dirinya sendiri dan segera mencari cara untuk keluar dari hubungan tersebut sebelum berdampak lebih negatif kepada dirinya sendiri.
Seperti kutipan kalimat terkenal oleh salah satu tokoh, Branden (1994) yang sempat berkata, “If you do not love yourself, you will be unable to love others.” yang berarti “kalau kamu tidak mencintai dirimu sendiri, kamu tidak akan bisa mencintai orang lain.”
Meskipun self love tidak selamanya menjadi titik awal dalam mencintai orang lain, tidak ada salahnya kita mempraktikkan self love, karena masing-masing diri kita berharga dan spesial. Kalau bukan kita yang mencintai diri kita, lalu siapa lagi? Ada banyak cara yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan self love, yang sebelumnya telah dibahas pada “Self Love Guide: Be Your Own Valentine!”
Proses untuk sepenuhnya menunjukkan self love yang tinggi dan mencerminkan gambaran diri yang stabil tidak selamanya mudah bagi sebagian orang, and it’s totally okay! Note that everyone has their own limit. Note juga kalau kamu mengalami kesulitan dalam menemukan citra diri kamu yang ideal, kamu bisa banget mengajukan sesi konseling dengan konselor di BMA dengan cara yang sangat mudah lho! Langsung daftarkan diri kamu melalui email ke bma@ciputra.ac.id yah!
Remember, before anyone, you should love yourself <3
Penulis: Inggrid Devyana Chandra
Referensi:
Branden, N. (1994). The six pillars of self-esteem. Bantam Books, Inc.
Grace, S., Pratiwi, P. C., & Indrawati, G. (2018). Hubungan antara rasa percaya dalam hubungan romantis dan kekerasan dalam pacaran pada perempuan dewasa muda di Jakarta. Jurnal Psikologi Ulayat, 5(2), 169-186. doi:10.24854/jpu02018-183.
Julianto, V., Cahayani, R. A., Sukmawati, S., & Aji, E. S. R. (2020). Hubungan antara harapan dan harga diri terhadap kebahagiaan pada orang yang mengalami toxic relationship dengan kesehatan psikologis. Jurnal Psikologi Integratif, 8(1), 103-115. Solferino, N., & Tessitore, M. E. (2021). Human networks and toxic relationships. Mathematics, 9(18), 1-10.
