Mahasiswa Kedokteran Si Kutu Buku?

Kutu buku, itulah kata yang terlintas pada benak masyarakat ketika mendengar kata “mahasiswa kedokteran”, rasanya kata ”kutu buku” kurang tepat untuk menggambarkan mahasiswa “kedokteran”, Karena pada kenyataannya mahasiswa kedokteran tidak hanya diwajibkan untuk membaca berbagai sumber referensi dan memiliki pengetahuan yang luas, namun juga dituntut untuk memiliki kemampuan berbicara, menjelaskan, juga keterampilan dalam memeriksa.

Kedokteran sendiri merupakan salah satu jurusan favorit dikalangan siswa-siswi SMA, hal ini dapat dibuktikan dengan adanya persaingan yang sangat ketat pada seleksi masuk kampus. Sebagai contoh Universitas Airlangga yang memiliki peminat 3153 pada SNBT 2022 dengan daya tampung 75 saja, hal ini membuat siswa-siswi yang belum bisa lolos seleksi rela untuk gap year demi kedokteran ini.

Tidak hanya susah ketika masuk saja, namun menjadi mahasiswa kedokteran juga dibutuhkan ketekunan dan kesabaran yang besar. Mahasiswa kedokteran tidak hanya diwajibkan untuk memahami materi dalam hal pengetahuan saja, namun juga dituntut untuk bisa menggali informasi tentang keluhan yang dirasakan oleh pasien tanpa membuat pasien merasa tidak nyaman, setelah itu mahasiswa kedokteran juga diwajibkan untuk memberikan penjelasan kepada pasien hingga pasien tersebut menerima dengan jelas informasi yang diberikan.

Jadi mahasiswa kedokteran bukan hanya diharuskan untuk pandai dalam ilmu pengetahuannya saja, namun mereka juga harus bisa menjelaskan kasus yang didapatkan dan terampil dalam memeriksa pasien. Kemampuan mereka dapat diukur dengan ujian ujian yang ada seperti MCQ, SOCA, dan OSCE.

Ditulis oleh Asavita Rhena Himawa (Anggota UKM Balawarta)