Sumber - www.itoday.co.id
Foto : www.itoday.co.id

Oleh Dewa Gde Satrya – Dosen Bisnis Hospitaliti dan Pariwisata di Universitas Ciputra Surabaya

Di Gunung Penanggungan, Jawa Timur, gunung yang disucikan sejak era Airlangga hingga Majapahit dengan nama kuni Gunung Pawitra, berdiri situs Candi Belahan. Di situs bersejarah tersebut ada relief yang menggambarkan raksasa akan menelan bulatan besar. Diperkirakan, relief itu menggambarkan terjadinya peristiwa gerhana pada awal abad ke-11. Persisnya sekitar tahun 1009.

Situs itu merupakan salah satu varian produk pengembangan model wisata berbasis keilmuan (scientific tourism) yang mengemas peristiwa alam gerhana matahari. Di Indonesia yang kemarin dilintasi gerhana matahari total, peristiwa alam langka tersebut patut pula dipahami sebagai momentum untuk mengembangkan varian. Atau diversifikasi produk Indonesia multidestinasi dengan konsep scientific tourism.

Scientific tourism kerap diistilahkan knowledge oriented tourism (Laing: 2010). Jenis kegiatan berwisata itu dilakukan sambil melakukan riset dan ekspedisi. Yang jadi fondasi adalah kaidah – kaidah ilmiah yang umumnya berkaitan dengan alam (nature tourism).

Banyak wisatawan dari segmen ilmuwan, khususnya ilmu alam, yang memberikan perhatian pada aspek tersebut. Bagi mereka, berwisata sembari meneliti merupakan dua hal yang sama menariknya. Salah satu contoh penting segmentasi “wisatawan’ dari kalangan ilmuwan adalah Alfred Russel Wallace.

Wallace
Pada 2010 PBB menetapkan International Year of Biodiversity (Tahun Keanekaragaman Hayati). Saat itu mulai mengkristal pemahan di kalangan ilmuwan bahwa Indonesia sebagai negara mega-diversity terbesar kedua di dunia setelah Brasil sangat berkepentingan memanfaatkan momentum tersebut untuk mencuatkan diri.

Dalam konteks itu, banyak hal yang bisa ditelusuri terkait dengan keanekaragaman hayati. Salah satunya jejak Alfred Russel Wallace di tanah air. Ilmuwan naturalis tersohor itu selama delapan tahun (1854 – 1861) melakukan ekspedisi penelitian di Nusantara. Namanya lantas diabadikan dalam sebutan Garis Wallacea yang menetapkan garis persebaran fauna di Indonesia.

Dari Ternate, Maluku Utara, pada 1858. Wallace mengirimkan naskah kepada koleganya, Charles Darwin. Mereka pun tiba pada kesimpulan yang kurang lebih sama mengenai persebaran dan evolusi spesies.

Setahun kemudian, Darwin menerbitkan mahakaryanya, The Origin of Species, setelah diyakinkan oleh kesimpulan – kesimpulan Wallace dalam naskah dari Ternate tersebut. kini keduanya disandingkan sejajar sebagai penemu teori evolusi.

Bagi Indonesia, Wallace mempunya peran penting. Wallace-lah yang menjelaskan mengapa fauna Sulawesi begitu khas berbeda dengan fauna di bagian barat maupun timur Indonesia.

Setelah delapan tahun menjelajah Nusantara, Wallace membagi pengalaman, petualangan dan ilmu pengetahuannya dalam The Malay Archipelago, The Land of the Orangutan and the Bird of Paradise. A narrative of travel, with studies of man and nature, 1869. Macmillan and Company, London.

Buku yang telah diterjemahkan Komunitas Bambu itu berisi ulasan yang memadukan taksonomi, asal usul kehidupan, perubahan lempeng bumi, keanekaragaman hayati, dan sejarah. Disajikan pula anotasi yang menjelaskan perubahan nama tempat, suku bangsa, serta hewan dari nama asli pada masa ekspedisi Wallace ke dalam perubahan nama yang dipakai saat ini.

Dalam buku itu ditemukan nama – nama flora dan fauna Nusantara dalam nama ilmiahnya. Lengkap dengan kedudukan spesies tersebut dalam taksonomi. Persebarannya pun dijabarkan secara terperinci. Lengkap dengan perkiraan perubahan lempeng bumi dan masa geologisnya. Manusia pun tak luput dari mata jeli Wallace.

Wallace adalah contoh peneliti yang penuh semangat. Tak patah arang meski beberapa kali terserang malaria. Juga, lintah, pacet, agas, ular dan sebutlah apa saja yang mengerikan, menjijikan serta membahayakan dari sebuah hutan perawan 150 tahun lalu.

Tony Whitten yang memberikan pengantar dalam buku itu menyetujui Wallace yang menyatakan bahwa Jawa merupakan pulau tropis paling indah di dunia.’Jawa juga paling menarik bagi pelancong yang ingin mencari pemandangan baru dan indah serta bagi para naturalis yang ingin mempelajari keanekaragaman hayati dan keindahan alam tropis. Selain itu, Jawa juga tepat bagi para moralis dan politisi yang ingin mengetahui bagaimana manusia bisa diatur dengan cara yang paling baik dengan keadaan yang baru dan berbeda-beda (hlm xxv).”

Di Indonesia, selain gerhana matahari dan ekspedisi Wallace yang melegenda, masih banyak item keilmuwan yang bisa diangkat dalam produk wisata scientific. Pegunungan dan gunung berapi, misalnya. Fenomena meletusnya Gunung Kelud pada 2007, misalnya, mengundang delapan ilmuwan asing untuk datang.

Akhirnya, perlu disadari bahwa ranah turisme tidak hanya terkait dengan perhotelan, budaya, transportasi dan kebijakan negara. Turisme dalam konteks scientific tourism meniscayakan relasi yang erat dengan Kementerian Bistek dan Dikti.

Dan, menargetkan pasar yang sangat spesifik, yakni pelancong dari kalangan kaum cerdik pandai. Tidak hanya dalam bidang eksata, tetapi dalam bidang seni dan budaya pun scientific tourism sebenarnya telah amat melekat dengan bangsa ini.

Sejumlah pelukis dunia yang hijrah ke Bali, bahkan menetap hingga akhir hayat juga menjadi sinyal betapa besar sumber daya pariwisata bangsa ini. Semoga gerhana matahari yang bertepatan dengan Hari Raya Nyepi ini bisa menumbuhkan gairah scientific tourism itu.

 Gerhana Matahari dan Scientific Tourism . Jawa Pos. 10 Maret 2016.  Hal. 4

Artikel lain