Perjalanan National Field Trip (NFT) dari Yogyakarta ke Bandung dilanjutkan dengan kereta. Tiba di Bandung pada hari yang ke-5 inilah cerita dari IHTB-ers.

Day 5 (Kawah Putih, Sindang Lerek dan Kampung Daun)
Udara dingin menghinggapi IHTB-ers ketika tiba di kawasan wisata Ciwidey. Tampak para Ibu menjajakan buah strawberry dan blueberry segar yang baru dipetik dari pohonnya. Untuk bisa mencapai Kawah Putih, IHTB-ers dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk menaiki “Ontang Anting”. Sebuah mobil yang berisi kurang lebih 12 orang yang memang diperuntukkan membawa para pengunjung dari pos parkir ke kawasan Kawah Putih.

Bau belerang yang menyengat, membuat IHTB-ers tidak dapat tinggal berlama – lama di lokasi. Kabut tebal juga sedikit menutupi panorama indah yang ada di kawah putih. Untuk mengunjungi kawasan wisata ini, disarankan untuk mengenakan masker, untuk mengurangi bau belerang yang sangat menyengat.

Hujan mengguyur Bandung saat IHTB-ers tiba di resto Sindang Reret. Begitupun saat IHTB-ers tiba di Kampung Daun. Sebuah gathering kecil dengan beberapa IHTB-ers yang unjuk kebolehan dalam menyanyi menutup acara makan malam hari itu.
Day 6 (Trans Studio Bandung dan Saung Angklung Udjo)
Gegap gempita opening ceremony untuk menyambut para pengunjung Trans Studio Bandung mampu memeriahkan suasana. Theme park yang terletak di kawasan terpadu TSB ini menyajikan berbagai macam show dan wahana yang menarik. Beberapa spot permainan yang dapat dicoba seperti Yamaha Racing Coaster, salah satu Roller Coaster tercepat di dunia dengan gerakan mundur yang sensasional. Bagi Anda yang gemar dengan tokoh – tokoh Marvel, Anda bisa mencoba Superheroes 4D. Terdapat beberapa show yang juga menarik untuk Anda nikmati, seperti Kabayan Goes to Hollywood, Legenda Putra Mahkota dan Special Effects Action.
Tempat selanjutnya yang IHTB-ers tuju adalah Saung Angklung Udjo. Saung Angklung Udjo merupakan sanggar seni yang memberikan pertunjukkan seni, laboratorium pendidikan sekaligus sebagai obyek wisata budaya khas daerah Jawa Barat. Didirikan pada tahun 1966 oleh Udjo Ngalagena yang akrab dipanggil Mang Udjo dan istrinya Uum Sumiati, Saung Angklung ini mengandalkan semangat gotong royong antar sesama warga desa.
Setelah belajar untuk memainkan angklung dan melihat beberapa kerajinan tangan yang dipamerkan dan dijual di Saung Angklung, IHTB-ers segera kembali ke tempat menginap untuk beristirahat dan mempersiapkan perjalanan esok hari. Bagi Anda yang belum sempat membaca cerita NFT sebelumnya, silahkan untuk melihat di IHTB National Trip [part 2] dan IHTB National Field Trip [part 1].
bersambung ke bagian berikutnya….















