Program Studi International Hospitality & Tourism Business Universitas Ciputra kembali mengundang pembicara dalam Elective Course Panji. Adapun Ki Dalang Lukas Eko Sukoco yang juga merupakan pendeta Gereja Kristen Jawa di Purworejo, menjadi pembicara tamu untuk memberikan seminar mengenai Panji dalam Seni Pewayangan. Untuk Anda yang juga ingin membaca mengenai Panji dalam Seni Pertunjukan, Anda bisa membacanya di sini.
Ki Dalang Pendeta Lukas E. Sukoco menuturkan bahwa orang – orang pada zaman dahulu menyaksikan pertunjukan wayang dari balik tempat dalang memainkan wayang, mengingat kata wayang sendiri yang berasal dari kata bayang atau bayangan. Dalang memainkan pertunjukan wayang dengan dibantu oleh beberapa penabuh gamelan, sinden, penata cahaya, dll.

Pewayangan sendiri merupakan suatu pentunjukan teater yang di dalamnya mengandung beragam unsur seni seperti; seni gerak yang disebut sabetan, udanegara yakni tatacara bertutur kata, bersikap dan bertingkahlaku, rupa dan sastra. Gerak wayang sendiri meliputi gerakan menyembah, berjalan, berlari, menari, terbang dan perang. Gerak wayang tersebut berprinsip pada status sosial, usia (tua-muda) dan klasifikasi dalam tokoh – tokoh wayang.
Ki Dalang Lukas E. Sukoco menjelaskan bahwa ada beberapa ragam wayang seperti :

1. Wayang Beber
Merupakan seni wayang yang paling tua yang muncul dan berkembang di Pulau Jawa. Wayang Beber berupa lembaran – lembaran yang dibentuk menjadi tokoh – tokoh dalam cerita wayang termasuk Cerita Panji.
2. Wayang Gedog
Wayang Gedog merupakan wayang yang memakai cerita dari serat Panji. Cerita yang ada dalam serat Panji hanya boleh dimainkan oleh dalang yang merupakan keturunan dari keluarga dalang. Wayang Gedog juga hanya boleh dimainkan bagi keluarga keraton sehingga tidak dipentaskan untuk masyarakat umum.

3. Wayang Klithik
Wayang Klithik adalah wayang yang terbuat dari kayu. Perbedaannya dengan wayang golek yang mirip dengan boneka, wayang Klithik berbentuk pipih seperti wayang kulit.
4. Wayang Krucil
Wayang yang terbuat dari bahan kulit ini memiliki ukuran yang kecil sehingga lebih sering disebut dengan Wayang Krucil.
Dibandingkan dengan epos sejenisnya seperti Mahabarata dan Ramayana, cerita Panji memang kalah tenar. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti pembatasan pementasan hanya untuk kalangan Keraton atau tersebarnya cerita hanya di Jawa Timur sebelum akhirnya menyebar melalui penuturan lisan hingga ke wilayah Melayu bahkan Asia. Kesadaran akan perlunya perubahan dalam seni pewayangan juga perlu dilakukan. Tidak dengan meninggalkan pakem yang sudah ada, namun juga tetap harus menjadi panutan sambil terus berkembang dengan memberikan sisi modern.





