UC|SHE|Suryadi Kusniawan Family Business seringkali dikaitkan dengan adagium bahwa keberadaan generasi pertama sebagai generasi yang membanggun, generasi kedua sebagai generasi yang mempertahankan, dan generasi ketiga yang menghancurkan. Menanggapi adagium tersebut, Aruan Soenardi berpendapat bahwa penghancuran itu bisa terjadi di generasi apa saja, tidak hanya generasi ketiga. Pertanyaannya, sudahkah kita mempersiapkan orang yang tepat untuk transisi perusahaan, sebab kata kunci agar tidak terjadi penghancuran di salah satu generasi adalah ketepatan memilih orang.
Generasi pertama dalam family business akan berada pada mode membangun, sehinga dengan sendirinya persatuan akan terjadi dengan kuat. Pada generasi kedua biasanya cenderung mempertahankan dan memperbesar perusahaan, dan pada tahap ini pengaruh dari luar biasanya sudah mulai bermunculan. Pada generasi kedua inilah biasanya muncul kecenderungan untuk memikirkan bagaimana caranya agar generasi ketiga tetap terlibat di family business yang sudah dikembangkan, sehingga terjadi pemecahan kosentrasi antara konsentrasi ke perusahaan dengan kosentrasi ke peralihan generasi. Pada tahap ini generasi kedua cenderung sudah mulai memikirkan keluarga masing-masing untuk menjawab pertanyaan siapa kelak yang akan meneruskan perusahaan. Kondisi-kondisi tersebut menjadikan gejala-gejala kekacauan bisa mulai terlihat di generasi kedua, dan jika generasi ketiga menangkap gejala kekacauan tersebut maka potensi untuk menjadikan mereka apatis terhadap perusahaan akan semakin besar.
Aruan Soenardi menganggap perlunya strategi yang tepat dalam proses peralihan antar generasi, termasuk peralihan generasi kedua ke generasi ketiga. Generasi yang sedang menjalankan family business harus bisa menanamkan narasi sejarah perusahaan agar generasi penerus memiliki ikatan dengan perusahaan. Narasi tentang bagaimana perusahaan berdiri, berkembang, dan menghadapi berbagai macam tantangan akan memperkuat penghargaan dan ikatan generasi berikutnya terhadap perusahaan yang ada. Selain itu, norma budaya perusahaan dan keluarga harus bisa ditanamkan secara lintas generasi agar muncul kesadaran bersama antar anggota keluarga untuk menempatkan family business sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sebuah keluarga, termasuk seluruh anggota keluarga di dalamnya. Selanjutnya, seluruh anggota keluarga harus dibuka kesadarannya tentang keberadaan seluruh anggota keluarga yang sejauh ini ditopang oleh keberadaan family business, segala fasilitas yang dinikmati oleh seluruh anggota keluarga mulai dari pemunuhan kebutuhan dasar hingga liburan diperoleh melalui keberadaan family business. Selain itu, perlu penanaman konsep bahwa family business merupakan bisnis untuk semua anggota keluarga, sehingga perlu mengikis aspek individual, terutama dalam perspektif kepemilikan. Kesadaran bahwa perusahaan kelaurga merupakan milik keluarga dan bukan milik individu dalam anggota keluarga harus tertanam kuat di seluruh anggota keluarga lintas generasi. Kesadaran kepemilikan bersama akan menurunkan ego dari masing-masing anggota keluarga dan berpotensi memunculkan kesadaran bagi anggota keluarga yang terlibat dalam pengelolaan perusahaan harus benar-benar berangkat dari hati, sebab melakukan secara maksimal untuk sesuatu yang menjadi milik bersama itu hanya bisa dilakukan jika kita bekerja dengan hati. Dari sisi lain, kesadaran akan kepemilikan bersama ini juga diharapkan mampu memicu kesadaran dari anggota keluarga yang memang secara sadar merasa kurang dalam kemampuan dan ketertarikan dalam pengelolaan perusahaan bisa dengan sukarela dan tegas mengundurkan diri dari pengelolaan perusahaan, meskipun tidak berarti juga akan kehilangan hak katas kepemilikan saham. Perusahan keluarga juga harus bersiap untuk menyesuaikan dengan kondisi kekinian agar menciptakan lingkungan perusahaan yang kondusif dan menyenangkan bagi generasi baru, sekaligus memberikan kesempatan seluas-luasnya pada generasi baru untuk berekspansi dan bereksperimen, ini bagian dari pembelajaran dan pemberian kepercayaan dan jangan pernah memutus dan memupuskan kesempatan generasi baru dengan tidak memberikan ruang gerak bagi mereka dan langsung memberikan punishment jika kepercayaan yang diberikan berujuang pada kegagalan.
Bapak Aruan Soenardi juga memiliki filosofi dalam pengelolaan family business, bahwa family business harus diteruskan sampai maksimal, kita harus meneruskan sampai maksimal. Filosofi tersebut secara turun-temurun ditegaskan sebagai filosofi pengembangan Gading Murni. Beliau ingat betul dengan pesan yang ditegaskan oleh orang tuanya, bahwa perusahaan ini adalah perusahaan keluarga, sehingga siapapun yang bernaung dalam keluarga ini harus dimaksimalkan dan dilindungi. Jika diantara anggota keluarga ada yang tidak setuju dengan kesepakatan yang ada dalam perusahaan keluarga maka harus dengan kesadaran untuk mengundurkan diri dari perusahaan. Pengunduran ini bisa berupa pengunduran diri dari pengelolaan perusahaan dan tetap menjadi bagian dari pemegang saham, atau bisa juga pengalihan saham ke anggota keluarga yang lain, tentunya sesuai dengan aturan main yang ada di perusahaan.
Satu hal lagi yang perlu dipegang, kata Aruan Soenardi, bahwa generasi baru harus mampu dan mau untuk menyenangkan generasi sebelumnya sehingga kepercayaan generasi baru menjadi semakin besar. Tentu ini butuh kedewasaan dan kemauan untuk menurunkan ego. Sebaliknya, bagi generasi sebelumnya juga perlu menahan ego dengan tidak menganggap bahwa generasi baru itu tidak atau kurang memiliki kemampuan, sehingga berikanlah kepercayaan dan kesempatan yang lebar. Jika lintas generasi ini bertemu dengan ego masing-masing yang sudah ditekan, maka kolaborasi antar generasi akan sangat mudah untuk dijalankan.
Lebih lanjut perbincangan dengan Bapak Aruan Soenardi dapat diakses melalui tautan ini.

