Saksi Jehovah, Mengapa Tidak Boleh Tranfusi Darah?

October 5, 2020

By: Jennifer Esther

Dengan bertemu orang yang berbeda pandangan dan keyakinan, Anda akan mengenal lebih dirimu juga. Dengan bertemu liyan, Anda mempertanggungjawabkan iman kepercayaanmu. Dengan bertemu liyan, Anda berlatih berdialog. Dengan bertemu liyan, Anda merajut kemanusiaan, kerja sama dan menunjukkan kasih dan keadilan pada semua orang. Bukan dengan terkungkung dalam tempurung yang Anda buat agar diri seperti tak bernoda.

Apapun agama yang kita miliki, sudahkah kita bertumbuh dalam iman? Ataukah malah kita mempersenjatakan iman kita terhadap orang lain? Persatuan dalam keanekaragaman, itulah pedoman erat bagi bangsa Indonesia. Untuk hidup di Indonesia berarti menerima berbagai keanekaragamaan dengan ikhlas, dan tentunya keanekaragaman agama. Namun sayangnya masih ada tuduhan-tuduhan dan serangan yang dilayangkan antara satu umat beragama dengan yang lain.

UC Studium Generale kali ini mengundang dua narasumber, Pak Bambang Soelistijono dan Pak Lucky Adhie yang merupakan Saksi Yehuwa. Dalam tema: Saksi Jehova, Mengapa Tidak Boleh Transfusi Darah? Pak Bambang dan Pak Lucky meluruskan pandangan-pandangan yang kurang benar terhadap Saksi Yehuwa. Beliau menjelaskan pandangan dari sisi teologis dan medis terkait mengapa seorang Saksi tidak diperbolehkan untuk tranfusi darah. Secara teologis, Saksi Yehuwa menghargai kehidupan dan darah adalah simbol dari kehidupan tersebut. Tak jarang Saksi Yehuwa memberikan terobosan di dunia medis dengan melakukan operasi tanpa transfusi darah. Mahasiswa dengan antusias menyampaikan pertanyaan-pertanyaan dan berdikusi terkait pemahaman alkitab.

Dengan diadakannya Studium Generale ini, diharapkan mahasiswa dapat lebih mengenali iman diri sendiri serta bertumbuh dalam iman tersebut, bertumbuh dalam perjumpaan dengan orang yang berbeda iman dan keyakinan man mencapai keimanan yang lebih dewasa.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *