Sumber:https://mili.id/baca-18873-mahasiswa-fdb-universitas-ciputra-angkat-karya-anak-disabilitas-lewat-fashion

Mahasiswa FDB Universitas Ciputra Angkat Karya Anak Disabilitas Lewat Fashion

30 April 2025

Surabaya, mili.id – Mahasiswa FDB Universitas Ciputra Angkat Karya Anak Disabilitas Lewat Fashion Kontemporer- mahasiswa Fashion Design and Business (FDB) Universitas Ciputra (UC) bersama Yayasan Dmart Tithiek Tenger, organisasi sosial yang menaungi anak-anak berkebutuhan khusus di Kota Malang, berkolaborasi membuat karya seni kontemporer, Rabu (30/4/2025).

Proyek ini bermula dari keperdulian akan karya batik artisan Topeng Malangan hasil karya artisan batik disabilitas Yayasan Dmart Tithiek Tenger yang dinilai belum memiliki nilai jual tinggi, kurang kompetitif, dan belum sesuai selera pasar anak muda masa kini.

Janet Teowarang selaku pembimbing proyek tersebut mengatakan, ia kemudian membeli tiga kain batik dengan motif berbeda karya artisan batik disabilitas untuk dijadikan bahan karya desain fashion kontemporer.

“Langkah awal dilakukan secara sederhana, yaitu melakukan proses desain fashion kontemporer melalui pemindahan kain batik yang berukuran 2,5 meter x 1,20 meter menjadi data digital menggunakan scanner,” katanya.

“Kemudian kain batik dijadikan skala kecil dan dicetak dengan tinta ramah lingkungan untuk dijadikan busana dengan media boneka Barbie menggunakan inspirasi sejarah fashion dunia yang dimodernisasikan,” lanjutnya.

Janet menyampaikan bahwa proses ini adalah bagian dari eksplorasi dalam mata kuliah Fashion and Culture, sebagai cara untuk mengangkat isu sosial inklusi melalui desain dan budaya.

“Dari kreasi miniatur itulah lahir interpretasi nyata berupa tiga koleksi busana yang memukau,” tambahnya.

Karya pertama berasal dari Vallysha Christian Happy dan Jennifer Christella Wijaya yang mengambil inspirasi dari gaya feminin tahun 1940–1950an, dengan siluet klasik A-line, atasan putih berkerah tinggi yang diinovasikan menjadi satu dengan lengan, hingga aksesori elegan.

“karya ini memadukan nilai-nilai budaya dengan estetika vintage yang klasik dan berkelas,” terangnya.

Sedangkan, karya kedua dari Gusti Agung Istri Krisna Kirana Kepakisan dan Audriana Clarissa yang mengeksplorasi batik dalam semangat era 70an dengan ciri khas penuh warna dan pengaruh gaya bohemian.

Mereka menyajikan flare-leg pants dengan kain batik dan atasan halter ditambah pita panjang menjuntai hingga lantai. Mereka menyatukan batik kontemporer ikon Kota Malang berwarna terang yang memiliki warna–warna psychedelic khas 70an dengan gaya etnik modern

Karya ketiga dari Rebecca Hagia Pranoto dan Melanie Gunawan Puteri yang mengambil inspirasi dari siluet khas fashion wanita era 1950–1960, di mana bentuk rok lingkar (full skirt) menjadi ciri utama.

“Rok tersebut dimodernisasi menjadi bentuk balloon skirt yang tetap mempertahankan volume khas tahun 50-an, namun dengan potongan yang lebih playful dan dinamis,” paparnya.

Untuk atasan, mereka menggunakan model sleeveless dengan potongan sederhana dipadukan aksen pita di leher menjadi sentuhan feminin khas tahun 1960-an.

Kesan vintage diperkuat dengan motif batik modern yang disematkan pada detail pita dan kerah, serta dominasi motif topeng tradisional pada rok yang mengangkat nilai budaya lokal.

Tak hanya sebatas pakaian, para mahasiswa juga melakukan re-desain terhadap motif batik yang ada, memberikan nafas baru dengan selera anak muda.

“Harapannya, motif batik karya artisan-artisan muda disabilitas ini dapat menjadi lebih menarik, lebih hidup, serta lebih diminati pasar generasi muda yang selama ini mungkin belum tersentuh oleh batik tradisional dari komunitas difabel,” ungkapnya.

Djoko Rendy, selaku Ketua Yayasan tersebut merasa bangga bisa berkolaborasi dengan mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya dalam proses redesign Batik Topeng Malang.

“Melalui kerja sama ini, teman-teman disabilitas dari DMart mendapatkan pengalaman berharga untuk berinteraksi, belajar, dan berkontribusi dalam sebuah karya besar yang mengangkat budaya lokal,” tuturnya.

Salah satu artisan disabilitas. Dimas Rachmadhani menilai gambar design batik kolaborasi tersebut sangat luar biasa. “Saya lihat gambar desain batiknya bagus luar biasa. Favorit saya adalah gambar desain batik kelompok 1 dan 2. Saya suka warna dan motifnya,” pungkasnya.