Selalu Ikut Berkreasi Membuat Inovasi
Jawa Pos. 5 September 2023. Hal. 20
SURABAYA-Namanya KPK. Alias, Keranjang Pakaian Kotor. Dibuat dengan ring basket bekas yang dibawahnya sudah disediakan keranjang besar untuk merampung baju-baju kotor. Yang menarik, setiap baju yang melewati ring tersebut langsung terhitung jumlahnya, bak para pemain basket yang berhasil mencetak gol. Inovasi itu adalah karya Tri Noviyanto P.Utomo, dosen interior arsitektur Universitas Ciputra.
Ide membuat KPK itu diceritakan Tomi, panggilan akrab Tri Noviyanto P.Utomo, berawal dari dirinya yang suka melempar baju kotor kekeranjang pakaian kotor.”Terus saya jadi kepikiran, kalau bisa masuk tepat sasaran itu ada sensasinya sendiri. Tapi, kok kalau masuk aja nggak kehitung angka golnya, rasanya kurang nendang ya,” ceritanya soal ide itu saat ditemui di Universitas Ciputra beberapa waktu lalu.
Dari situlah akhirnya dia mendapatkan ide membuat sensor penghitung agar jumlah pakaian kotor yang masuk pun bisa terhitung dengan akurat. Bahkan, saat semakin dikembangkan, KPK itu sudah dilengkapi timbangan untuk menghitung berat pakaian yang sudah terkumpul.
“Ini jadi nya cocok banget buat anak kos yang mau laundry. Jadi, nggak perlu repot-repot ngitung lagi kalau mau berangkat ke tukang laundry,” ujarnya, lantas tertawa. Namun, jika digunakan di rumah pun tetap sah-sah saja untuk menambah sensasi memasukkan pakaian kotor ke tempat mencetak gol tersebut.
Di sisi lain, Tomi menjelaskan bahwa ide-ide kecil seperti itu terus direalisasikan agar bisa menginspirasi mahasiswanya. Sebagai seorang pengajar desain interior yang selalu memberi tugas para mahasiswanya untuk berpikir kreatif, membuat barang unik memaksanya untuk bisa kreatif juga. “Setiap saya menugasi mahasiswa untuk bikin sesuatu kayak lemari, meja, atau kursi dengan desain yang unik dan menarik, saya pasti juga ikut bikin,” terangnya.
Dia menjelaskan, dirinya punya prinsip bahwa iso ngajar mosok nggak iso ngelakoni. Dari situlah dia selalu turut membuat kreasi bersamaan dengan para mahasiswanya itu. Khususnya untuk konsep-konsep upcycling yang ramah lingkungan.”Bikin bareng ditukang yang sama biasanya. Dan sama-sama ikut dipamerkan saat ada pameran. Meskipun nggak jarang karya mahasiswa saya lebih bagus,” ujarnya.
Namun, itulah goal yang ingin diraihnya. Bisa memotivasi dan mendorong para anak didiknya agar tidak kalah holeh dirinya. Dan bisa menjadi contoh bahwa dia tidak hanya dosen yang bisa memberi tugas. Tapi, juga ikut merealisasikan hal-hal yang ditugaskan kepada mahasiswanya. Dengan versi sendiri. (ama/c6/tia)

