Menjembatani Batas, Membangun Wawasan: Perjalanan Outbound Staff Exchange Saya ke Universitas Ciputra
Oleh Don Tham Chen Tong
Tunku Abdul Rahman University of Management and Technology (TAR UMT)

Pendidikan jarang terbatas pada empat dinding ruang kelas, dan tidak seharusnya dibatasi oleh garis geografis. Baru-baru ini, saya mendapat kehormatan besar untuk berpartisipasi dalam Program Outbound Staff Exchange, melakukan perjalanan dari TAR UMT Malaysia ke kota Surabaya yang penuh energi di Indonesia untuk berkolaborasi dengan Universitas Ciputra.
Jika menengok kembali perjalanan tersebut, “tak ternilai” mungkin satu-satunya kata yang paling tepat menggambarkan pengalaman saya. Kegiatan ini bukan sekadar penugasan mengajar; tetapi sebuah perjalanan mendalam yang memadukan pemahaman budaya, pengembangan profesional, dan penguatan hubungan akademik internasional.
Sebuah Platform untuk Pertukaran Pengetahuan
Tujuan utama kunjungan saya adalah penyebaran pengetahuan akademik, dan saya dipercaya untuk menyampaikan beragam topik yang menarik kepada para mahasiswa Universitas Ciputra. Kurikulum yang diberikan kepada saya mencakup persinggungan antara kreativitas, strategi, dan fungsionalitas:
- Pengaruh Ilustrasi dalam Budaya Pop: mengeksplorasi bagaimana seni visual membentuk dan mencerminkan tren sosial.
- Pengembangan Merek & Manajemen Konten: membahas struktur dasar branding modern.
- Desain Komersial dan Jasa: fokus pada aspek praktis Manajemen Proyek.
- Experience Design: mendalami pembuatan prototipe dan pendekatan berpusat pada pengguna.
- Berpikir Kreatif dan Kritis dalam Periklanan: mengasah pola pikir strategis calon pemasar.
Menyampaikan topik-topik tersebut merupakan tantangan yang menyenangkan. Yang membuat sesi ini semakin berkesan adalah kesempatan untuk mengontekstualisasikannya dengan perspektif Malaysia. Dengan berbagi praktik terkini, tren pasar lokal, dan studi kasus khas Malaysia, saya dapat memberikan sudut pandang komparatif kepada para mahasiswa Indonesia.
Para mahasiswa sangat reseptif. Melihat mereka menganalisis persamaan dan perbedaan industri kreatif Malaysia dan Indonesia menjadi pengalaman yang membuka mata bagi kedua belah pihak. Diskusi yang muncul menunjukkan bagaimana budaya serumpun di Asia Tenggara menafsirkan desain dan periklanan secara berbeda, membuktikan bahwa pembelajaran lintas negara sangat penting bagi pendidikan yang holistik.

Ekosistem Kampus yang Menginspirasi
Sesampainya di Universitas Ciputra, saya langsung dibuat terpukau oleh kualitas lingkungannya. Menyebutnya hebat adalah sebuah pernyataan yang meremehkan. Kampus ini merupakan perwujudan filosofi pendidikan yang visioner.
Fasilitasnya tertata baik, modern, dan sangat siap mendukung kegiatan belajar, tetapi atmosfer yang terasa di dalamnya justru menjadi keunggulan utama. Ada energi inovasi yang kuat di udara—sebuah lingkungan yang dirancang bukan hanya untuk belajar pasif, tetapi untuk berkreasi dan berwirausaha. Berjalan di koridor kampus dan menggunakan ruang pengajaran mereka memberikan saya perspektif baru mengenai bagaimana lingkungan fisik dapat memengaruhi hasil belajar. Ini adalah kampus yang “bernapas kreativitas”, dan mengajar di dalamnya merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan.
Menghidupkan Kembali Pertemanan Profesional
Meskipun aspek akademik sangat memuaskan, hubungan antarmanusia justru menjadi sorotan utama dari perjalanan ini. Perjalanan ini sekaligus menjadi ajang temu kangen. Saya berkesempatan kembali bertemu rekan-rekan dari Universitas Ciputra yang sebelumnya saya jumpai saat kunjungan mereka ke Malaysia pada 2023, dan juga pada September tahun ini.
Bertemu mereka di kampus mereka sendiri mengubah hubungan profesional menjadi pertemanan sejati. Dari yang awalnya sekadar mitra akademik, kini berkembang menjadi keakraban yang bermakna. Hubungan seperti inilah yang menjadi fondasi kerja sama antarkampus. Ketika kita saling percaya dan memahami rekan di negara lain, kolaborasi menjadi jauh lebih mudah dan mulus.
Wawasan tentang Budaya Kerja
Salah satu hal paling berharga bagi saya secara pribadi adalah kesempatan untuk mengamati budaya kerja di Universitas Ciputra. Setiap institusi memiliki gaya kerja yang berbeda, dan menyelami alur kerja mereka sehari-hari memberi saya pemahaman tentang gaya manajemen, pola komunikasi, dan teknik kolaborasi yang unik.
Saya sering kali mencatat berbagai hal di benak, berkeinginan membawa praktik positif tersebut ke lingkungan kerja saya di TAR UMT. Mulai dari pendekatan mereka terhadap kolaborasi antardosen hingga strategi keterlibatan mahasiswa, banyak hal yang dapat dipelajari. Pertukaran budaya administratif seperti ini sangat penting karena mencegah institusi terjebak dalam “silo” dan mendorong adopsi praktik terbaik internasional.
Arah ke Depan
Merefleksikan perjalanan ini, saya semakin yakin akan pentingnya program seperti ini. Saya sangat merekomendasikan agar TAR UMT dan Universitas Ciputra terus mendorong dan memperluas Program Staff Exchange.
Manfaatnya berputar dan berdampak luas. Dosen kembali dengan energi baru, perspektif segar, dan pengalaman mengajar internasional. Mahasiswa mendapatkan eksposur terhadap dosen tamu dan studi kasus regional. Institusi memperoleh aliansi yang lebih kuat dan potensi riset bersama.
Waktu saya di Surabaya adalah babak pembelajaran, pengajaran, dan persahabatan. Saya menantikan bagaimana benih kolaborasi yang ditanam dalam program ini akan tumbuh, mempererat hubungan antara kedua universitas dan kedua negara.




