Dilema Moral Mengenai Penggunaan Teknologi Deepfake Di Industri Film

Oleh: Jeremy El Joshua Kawibawa

(Sumber: Shagurope, Reddit https://old.reddit.com/r/fastandfurious/comments/194a5t8/heres_one_i_really_want_your_thoughts_on_should/)

Istilah deepfake ini sudah sangat merajalela di internet pada tahun 2024, terutama akibat program-program berbasis artificial intelligence seperti ChatGPT, Google Gemini, Midjourney, dan DALL-E sudah semakin berkembang. Namun, asal-usul dari istilah deepfake ini bukan dicetus dari suatu riset ataupun jurnal oleh ilmuwan dalam bidangnya, namun dari seorang pengguna Reddit yang bernama u/deepfakes yang membuat video dewasa menggunakan wajah-wajah aktris populer seperti Gal Gadot, Maisie Williams, dan juga Taylor Swift menggunakan suatu algoritma machine learning yang menggunakan komputer pribadinya, video-video selebriti tersebut, dan waktu luangnya. Tidak lama setelah aktivitas u/deepfakes ini dipublikasi oleh Vice dalam suatu artikel yang berjudul “AI-Assisted Fake Porn Is Here and We’re All Fucked,” beliau akhirnya membuat suatu subreddit yang juga bernama r/Deepfakes untuk guna berbagi video-video hasil proses deepfake ini.

(Suatu screenshot dari video dewasa deepfake yang menggunakan wajah Gal Gadot. Sumber: Vice, https://www.vice.com/en/article/gal-gadot-fake-ai-porn/)

Tahukah bahwa sebelum istilah deepfake dipopulerkan pun sudah ada kasus-kasus di industri film dimana teknologi deepfake ini digunakan? Benar, teknologi ini sudah digunakan sedini tahun 2015 pada film Fast and Furious 7. Sejarah penggunaan teknologi VFX (video effects) ini sudah berawal dari tahun 1997, 20 tahun sebelum istilah deepfake dicetuskan pada tahun 2017.

Namun, apa itu deepfake dan bagaimana proses pembuatannya?

Deepfake ini adalah gabungan dari 2 kata, yaitu: deep learning dan fake. Dimana istilah deep learning ini merupakan suatu proses dimana komputer diajarkan oleh manusia untuk memproses data dengan cara yang terinspirasi oleh otak manusia. Model deep learning ini dapat mengenali pola kompleks pada gambar, teks, suara, dan data lain untuk menghasilkan suatu prediksi yang akurat. Meskipun deepfake pada zaman sekarang sebagian besar sudah menggunakan teknologi machine learning tersebut, proses ini sudah ada sejak tahun 1997, dimana Christoph Bregler, Michele Covell, dan Malcolm Slaney memodifikasi suatu video yang menunjukkan seseorang berbicara untuk menggambarkan bibir orang tersebut mengucapkan kata-kata yang berada di trek audio yang berbeda menggunakan program yang bernama Video Rewrite. Ini menjadi program pertama yang melakukan proses ini secara otomatis, dan menggunakan teknik-teknik machine learning untuk membuat suatu koneksi antara suara yang dihasilkan oleh subjek dalam suatu video dan bentuk mukanya. Program ini awalnya diciptakan untuk membantu proses dubbing dalam film-film. Namun, seiring berjalannya waktu dan teknologi terus berkembang dan proses pembuatan deepfake ini semakin gampang, maka sekarang teknologi ini sering disalahgunakan untuk pembuatan video-video palsu untuk guna-guna pornografi ataupun propaganda politik.

Keuntungan yang diberikan oleh teknologi deepfake ini cukup banyak, lebih spesifiknya di industri film.

(Suatu contoh penggunaan teknologi deepfake dalam film, dimana kerutan pada wajah aktor dikurangi untuk memberikan kesan lebih muda. Sumber: https://www.respeecher.com/blog/de-aging-technology-changing-hollywood-future-film-making)

Pertama adalah penggunaan teknologi ini dalam proses kreatif untuk melakukan de-aging secara digital, dimana wajah seorang yang aktor yang sudah kelihatan tua di-edit agar wajah mereka kelihatan lebih muda dari wajah mereka yang sebenarnya. Proses deepfake ini sering digunakan untuk adegan-adegan flashback, dimana karakter yang dimainkan aktor harus tampak lebih muda. Proses ini biasanya digabungkan dengan seorang screen double yang memiliki kemiripan dengan satu sama lain. Contohnya adalah Kurt Russel dan Aaron Schwartz, dimana Kurt Russel memerankan dirinya di suatu adegan, dan setelah itu gestur tubuh dan ekspresi wajah beliau diulangi oleh Aaron Schwartz. Kemudian, kulitnya secara digital “diaplikasikan” ke wajah Russel dengan teknologi deepfake.

(Aaron Schwartz, Facebook. Sumber: https://www.facebook.com/aaronschwartz11/photos/a.10151791980440862/10155047629275862/?type=3&ref=embed_post)

Kedua adalah guna teknologi ini dalam proses dubbing suatu film ke bahasa lain, dimana proses dubbing secara tradisional ini bisa berakibat suatu pengalaman menonton film yang kurang enak karena bibir aktor yang bergerak secara tidak natural saat mengucapkan kata-kata dalam dub bahasa asing ini. Selain itu, ada perlunya untuk menyesuaikan makna teks yang diterjemahkan dengan ekspresi aktor yang seringkali dapat mengubah makna dari dialog-dialog yang seharusnya. Untuk mengatasi limitasi ini, teknologi deepfake dapat digunakan, contohnya adalah Flawless, suatu startup yang menggunakan teknologi artificial intelligence untuk menganalisa suatu video untuk mempelajari cara aktor ini bergerak, mulai dari posisi kepala, raut wajah, gerakan mata, dan juga fitur-fitur wajah lainnya. Setelah itu, AI ini menganalisa hal yang sama pada penerjemah dan kemudian hasilnya di-render hanya di muka aktor awal dan tidak memodifikasi latar belakang pada rekaman awalnya.

Namun, meskipun teknologi ini dapat digunakan dengan baik dan etis, ada juga beberapa permasalahan yang tidak bisa dibiarkan saja.

Teknologi deepfake ini dapat mengancam karir aktor-aktor yang sekarang sedang bekerja dan juga aktor-aktor yang baru terjun ke industri ini, karena aktor-aktor legendaris sudah dapat dihidupkan kembali dengan teknologi deepfake meskipun mereka sudah lama meninggal. Hal ini hampir terjadi dengan James Dean (yang sudah meninggal pada tahun 1955) dalam film Finding Jack pada tahun 2020, dimana karakter yang diperankan beliau menggunakan foto-foto dan rekaman-rekaman dari film yang sudah pernah dimainkannya. Namun, akibat komentar-komentar negatif dari orang-orang di industri perfilman, ide ini tidak jadi digunakan. Ada juga isu dalam bentuk dilema moral, dimana Dean sendiri belum memberikan izin secara langsung, namun hanya keluarganya. Kedua, hal ini bukan untuk menghidupkan kembali aktor ini, namun seakan Dean ini akan di casting ke film baru. Meskipun para produser sudah menyatakan bahwa beliau adalah seseorang yang sempurna untuk peran karakter spesifik ini, isu yang menjadi topik kontroversi apakah ada perlunya untuk memilih beliau daripada aktor yang masih hidup. Bukan hanya ini, namun ada banyak isu-isu legal ataupun moral jika producer memilih untuk merealisasikan ide ini.

Kedua, adalah hukum-hukum perlindungan hak cipta yang masih belum mengikuti kemajuan teknologi ini, dimana interpretasi dari hukum-hukum yang ada masih belum mencakupi penggunaan teknologi deepfake tanpa izin. Contohnya, dalam hukum defamasi di Amerika, korban dari suatu video deepfake yang menyebarkan misinformasi harus membuktikan bahwa ada niat jahat dari pencipta video tersebut. Dalam kasus pembuatan film, jika seorang produser ataupun studio film memutuskan untuk menggunakan teknologi deepfake ketika sudah mendapatkan hak cipta dari rekaman dan gambar yang menjadi input dan kemudian menggunakan rekaman dan gambar itu untuk membuat versi deepfake dari aktor itu, maka ada kemungkinan bahwa oknum-oknum tersebut tidak bisa dituntut untuk tindakan defamasi. Bukan hanya konten defamasi ataupun misinformasi, namun likeness seorang aktor dapat digunakan untuk membuat konten-konten pornografi video yang berbasis deepfake, dimana muka seorang aktor ditumpuk di atas aktor ataupun aktris dalam video pornografi tersebut. Kurangnya perlindungan terhadap hal-hal ini dapat merusak nama baik seorang aktor/aktris jika video-video tersebut tersebar luas dan masyarakat percaya bahwa orang yang tampil di video deepfake itu merupakan aktor/aktris sebenarnya dan bukan hasil dari editan.

Meskipun teknologi deepfake ini merupakan kemajuan yang dapat menjadi suatu hal yang sangat berguna bagi seniman-seniman yang bergerak di industri film, masih banyak permasalahan moral maupun legal yang harus diatasi sebelum para filmmaker lebih sering menggunakan teknologi ini. Contohnya adalah perlindungan secara komprehensif terhadap kemiripan atau likeness seorang aktor agar tidak digunakan untuk melakukan training untuk suatu model artificial intelligence tanpa seizin mereka ataupun menggunakan likeness ini tanpa seizin mereka akibat teknologi AI tersebut. Isu ini menjadi sorotan bagi protes yang dilakukan oleh serikat pekerja SAG-AFTRA terhadap AMPTP pada tahun 2023 lalu.

Protes skala besar oleh serikat tersebut sudah berhenti pada tanggal 9 November 2023, namun belum ada hukum-hukum baru yang memperkuat perlindungan terhadap pekerja-pekerja industri film, terutama pada aktor dan aktris.

Oleh karena itu, sebaiknya pihak-pihak yang berwenang dalam bidang legislatif bergerak lebih cepat untuk memperkuat perlindungan hak cipta/hak likeness dalam industri kreatif, sebelum lebih banyak pihak dirugikan akibat salah gunanya dari teknologi yang sebenarnya bisa menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat.

Daftar Pustaka

Apa itu Deep Learning? – Penjelasan tentang Deep Learning. (n.d.). AWS. Retrieved October 7, 2024, from https://aws.amazon.com/id/what-is/deep-learning/

Blake, S. (2021, May 3). Flawless Launches to Use Deepfake Tech for Movie Dubbing. dot.LA. Retrieved October 7, 2024, from https://dot.la/flawless-ai-dubbing-2652865135.html

Bregler, C., Covell, M., & Slaney, M. (n.d.). Video Rewrite, Origins of Deepfakes. History of Information. Retrieved October 7, 2024, from https://www.historyofinformation.com/detail.php?id=4792

Cole, S. (2017, December 11). AI-Assisted Fake Porn Is Here and We’re All Fucked. VICE. https://www.vice.com/en/article/gal-gadot-fake-ai-porn/

Cole, S., Prada, L., Allegretti, D., Lamoureux, M., Hendy, E., Pearson, J., Gault, M., & Rose, J. (2018, January 24). We Are Truly Fucked: Everyone Is Making AI-Generated Fake Porn Now. VICE. Retrieved October 16, 2024, from https://www.vice.com/en/article/reddit-fake-porn-app-daisy-ridley/

Lowe, L., & Williams, C. (2023, November 11). The SAG-AFTRA Strike in Hollywood, Explained. The Today Show. Retrieved October 7, 2024, from https://www.today.com/popculture/hollywood-actors-sag-strike-2023-explained-rcna94122

Panyatham, P. (2020, March 10). Deepfake Technology in the Entertainment industry: Potential Limitations and Protections — AMT Lab @ CMU. AMT Lab @ CMU. Retrieved October 7, 2024, from https://amt-lab.org/blog/2020/3/deepfake-technology-in-the-entertainment-industry-potential-limitations-and-protections

Vilenkin, R. (2021, January 27). How De-aging Technology is Changing Hollywood & the Future of Film-making. Respeecher. Retrieved October 7, 2024, from https://www.respeecher.com/blog/de-aging-technology-changing-hollywood-future-film-making

Artikel lain