Mahasiswa VCD Universitas Ciputra Belajar Empati Lewat Simulasi Difabel di Bulan Ramadan

Sumber foto : https://lentera.co/post/item/230477/Tak-Sekadar-Estetika-Mahasiswa-VCD-UC-Dalami-Desain-Inklusif-Lewat-Simulasi-Difabel

Bulan Ramadan 2026 menjadi momentum reflektif yang dimanfaatkan mahasiswa Visual Communication Design (VCD) Universitas Ciputra Surabaya untuk melampaui batas pembelajaran estetika semata. Melalui program simulasi disabilitas selama kurang lebih 90 menit, kampus disulap menjadi “laboratorium empati” yang mendorong mahasiswa merasakan langsung tantangan yang dihadapi penyandang disabilitas dalam mengakses ruang dan informasi.

Kegiatan ini bukan sekadar aktivitas simbolik Ramadan, melainkan bagian dari pendekatan desain inklusif yang terintegrasi dalam proses pembelajaran. Mahasiswa diajak memahami bahwa desain bukan hanya persoalan visual, tipografi, warna, atau komposisi, tetapi juga menyangkut akses, kenyamanan, dan keadilan bagi semua pengguna.

Dalam simulasi tersebut, mahasiswa bergantian berperan sebagai penyandang disabilitas—mulai dari menutup mata untuk merasakan pengalaman sebagai tunanetra, hingga membatasi gerak tubuh untuk memahami hambatan mobilitas. Dengan durasi sekitar 90 menit, mereka harus menjalani aktivitas di lingkungan kampus seperti biasa, namun dalam kondisi keterbatasan tertentu.

Pengalaman ini membuka kesadaran baru bahwa banyak elemen ruang dan desain visual yang selama ini dianggap “normal” ternyata tidak ramah bagi semua orang. Tangga tanpa guiding block, papan informasi tanpa huruf braille, kontras warna yang kurang jelas, hingga tata letak yang membingungkan menjadi contoh nyata bagaimana desain dapat secara tidak sadar menciptakan eksklusi.

Melalui pengalaman langsung tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar secara kognitif, tetapi juga secara emosional. Empati dibangun dari pengalaman tubuh (embodied experience), bukan sekadar teori di ruang kelas.

Pemilihan momen Ramadan memperkuat dimensi nilai dalam kegiatan ini. Ramadan identik dengan refleksi diri, kepedulian sosial, dan penguatan solidaritas. Dalam konteks pendidikan desain, nilai-nilai tersebut diterjemahkan menjadi kesadaran bahwa desainer memiliki tanggung jawab sosial.

Simulasi ini menunjukkan bahwa pembelajaran desain dapat bersifat transformatif: membentuk karakter, sensitivitas, dan etika profesional mahasiswa. Mahasiswa VCD tidak hanya didorong untuk menjadi kreator visual yang inovatif, tetapi juga perancang solusi yang inklusif dan berkeadilan.

Dengan menjadikan lingkungan kampus sebagai arena simulasi, VCD Universitas Ciputra menciptakan ruang eksperimen nyata. Mahasiswa dapat langsung mengidentifikasi problem aksesibilitas, kemudian mengolahnya menjadi ide desain—baik dalam bentuk sistem signage yang lebih ramah, desain informasi dengan kontras optimal, tipografi yang mudah terbaca, maupun perancangan ruang yang mempertimbangkan berbagai kondisi fisik pengguna.

Pendekatan ini selaras dengan prinsip universal design, yaitu merancang produk dan lingkungan yang dapat digunakan oleh sebanyak mungkin orang tanpa perlu adaptasi khusus. Dalam konteks desain komunikasi visual, ini berarti:

  • Mengutamakan keterbacaan dan kontras visual
  • Menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami
  • Mempertimbangkan akses alternatif (audio, tactile, atau visual yang adaptif)
  • Mendesain navigasi ruang yang intuitif

Kegiatan ini menegaskan bahwa pendidikan desain masa depan tidak cukup hanya berbasis tren industri atau perkembangan teknologi, tetapi juga harus responsif terhadap isu sosial, termasuk disabilitas dan kesetaraan akses.

Mahasiswa belajar bahwa desain memiliki dampak langsung terhadap kualitas hidup seseorang. Sebuah keputusan sederhana—seperti ukuran huruf, tinggi penempatan signage, atau pemilihan warna latar—dapat menentukan apakah seseorang merasa terinklusi atau justru terpinggirkan.

Dengan pendekatan experiential learning seperti ini, VCD Universitas Ciputra membangun fondasi etika dan empati yang kuat bagi mahasiswanya. Mereka dipersiapkan bukan hanya sebagai desainer yang kompeten secara teknis, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial.

Simulasi disabilitas di bulan Ramadan 2026 menjadi bukti bahwa pendidikan tinggi dapat mengintegrasikan nilai kemanusiaan ke dalam praktik profesional. Ketika kampus menjadi laboratorium empati, mahasiswa belajar bahwa desain terbaik bukanlah yang paling rumit atau paling trendi—melainkan yang mampu menjangkau dan menghargai keberagaman manusia.

Langkah ini menjadi contoh bagaimana institusi pendidikan dapat berkontribusi dalam membangun budaya desain yang lebih inklusif di Indonesia. Karena pada akhirnya, desain bukan hanya tentang apa yang terlihat indah, tetapi tentang siapa saja yang dapat merasakannya.

Sumber :

https://rri.co.id/surabaya/ramadan/2236128/ramadan-mahasiswa-universitas-ciputra-belajar-empati-difabel
https://lentera.co/post/item/230477/Tak-Sekadar-Estetika-Mahasiswa-VCD-UC-Dalami-Desain-Inklusif-Lewat-Simulasi-Difabel
https://www.kawalsurabaya.com/gaya-hidup/3312413983/tak-hanya-desain-visual-mahasiswa-vcd-uc-ditempa-empati-melalui-simulasi-disabilitas https://beritajatim.com/mahasiswa-vcd-universitas-ciputra-jadi-difabel-saat-ramadan-ternyata-ini-tujuannya
https://jatim.viva.co.id/kabar/24762-belajar-jadi-difabel-selama-90-menit-cara-unik-mahasiswa-vcd-uc-rancang-desain-masa-depan
https://www.mangaloka.com/inspirasi-gen-z/242413099/demi-desain-inklusif-di-ramadan-2026-mahasiswa-vcd-universitas-ciputra-sulap-kampus-jadi-laboratorium-empati
https://surabaya.pikiran-rakyat.com/metrolife/pr-39210053479/mahasiswa-vcd-uc-butakan-diri-demi-desain-inklusif-simulasi-disabilitas-yang-membuka-mata-soal-akses-setara https://timesindonesia.co.id/pendidikan/580528/langkah-vcd-universitas-ciputra-cetak-desainer-masa-depan-yang-peka-isu-disabilitas

Artikel lain