Biro Administrasi Akademik – Universitas Ciputra

Home / Workshop / Tingkatkan Profesionalisme Melalui Workshop Internasional: BAA UC Goes To FPT University

Tingkatkan Profesionalisme Melalui Workshop Internasional: BAA UC Goes To FPT University

Surabaya, 1 Februari 2026 – Dalam upaya memperluas wawasan dan meningkatkan efisiensi kerja melalui teknologi terbaru, perwakilan Biro Administrasi Akademik (BAA) Universitas Ciputra Surabaya, Ibu Widya, baru saja mengikuti Workshop International Staff & Faculty Development Program 2026: “Internationalization of Higher Education in a Digitally Advanced and Rapidly Changing Era yang diselenggarakan pada tanggal 6-10 Januari 2026 di FPT University, Vietnam.

Mengenal Program Workshop di FPT University


Workshop berskala internasional ini menjadi wadah pertemuan bagi berbagai praktisi pendidikan dari negara-negara Asia, seperti Jepang, Thailand, Filipina, dan Indonesia. Dari Indonesia sendiri, Universitas Ciputra hadir bersama Binus University sebagai perwakilan institusi yang berkomitmen pada pengembangan staf dan internasionalisasi. Fokus utama kegiatan ini adalah strategi penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam lingkungan kerja serta berbagi praktik terbaik (best practice) antar negara dalam menghadapi tantangan dunia pendidikan global.

AI Sebagai Partner Kerja: Insight dari Bu Widya

Sebagai salah satu peserta, Ibu Widya menekankan bahwa tema utama workshop ini adalah bagaimana manusia bisa “berdampingan” dengan AI.

“Kita harus tahu cara mempergunakan tools (AI) itu. Karena jika kita tidak tahu cara menggunakannya dengan baik, teknologi tersebut tidak akan mempermudah kinerja kita”, ungkap Bu Widya.

Dalam sesi diskusi workshop tersebut, Ibu Widya menemukan sebuah fakta menarik: tantangan yang dihadapi kampus-kampus di luar negeri ternyata tidak jauh berbeda dengan apa yang kita alami di Universitas Ciputra. Salah satu isu utamanya adalah adanya gap atau jarak antara pengajar dan mahasiswa.

“Kita harus menyadari adanya perbedaan generasi. Pengajar kita semakin senior, sementara mahasiswa yang datang setiap tahunnya justru semakin muda dan berkaitan erat dengan teknologi digital. Di sinilah peran penting tools seperti AI untuk menjadi jembatan di tengah perbedaan tersebut,” jelas Ibu Widya.

“Teknologi tidak akan pernah berhenti berkembang. Sebagai institusi, tugas kita adalah mendukung teman-teman dosen agar terus memiliki semangat belajar dan melek teknologi, sehingga gap tersebut bisa kita minimalisir bersama-sama,” tambahnya.

Selain soal teknologi, strategi memikat minat mahasiswa terhadap dunia internasional juga menjadi poin penting. Menariknya, internasionalisasi tidak selalu berarti harus pergi ke luar negeri (abroad). Ibu Widya membagikan konsep “Internasionalisasi di Rumah Sendiri”, di mana kampus bisa menciptakan suasana global.

 

Kesan Mengikuti Ajang Internasional


Mengikuti workshop internasional memberikan kesan yang mendalam bagi Bu Widya. Meskipun sempat merasa gugup karena harus berhadapan dengan budaya dan bahasa yang berbeda, beliau menyadari pentingnya mengambil peluang yang ada.

  • Melawan Prediksi Negatif: Bu Widya berpesan agar kita jangan berpikiran negatif atau takut duluan saat mendapatkan kesempatan mengikuti workshop internasional.
  • Daya Saing UC: Melalui interaksi dengan peserta mancanegara, terlihat bahwa kualitas dan apa yang telah dilakukan oleh staf serta mahasiswa Universitas Ciputra sudah mampu bersaing di level internasional. Contohnya dengan memasukkan mata kuliah dengan pengantar Bahasa Inggris itu juga membangkitkan suasana atau vibes internasionalisasi di rumah sendiri.
  • Networking: Selain ilmu, acara ini menjadi sarana berharga untuk menambah koneksi dan teman baru dari negara lain.

Harapan untuk Masa Depan BAA dan Universitas Ciputra

Bu Widya memberikan apresiasi tinggi atas kesempatan yang diberikan kepada staf Tenaga Kependidikan (Tendik) untuk mencoba atmosfer internasional. Menurutnya, departemen supporting seperti BAA juga sangat membutuhkan sudut pandang (POV) global agar tidak hanya terpaku pada studi banding domestik/ di Indonesia saja.

“Harapannya, ilmu dari workshop ini bisa segera diterapkan, misalnya dengan menumbuhkan vibes internasional di lingkungan kantor, seperti adanya International Corner. Saya juga berharap kedepannya semakin banyak rekan-rekan Tenaga pendidik lain yang bisa merasakan kesempatan serupa untuk meningkatkan profesionalisme layanan kita,” tutupnya.