Di Jakarta belakangan marak dibicarakan fenomena Go-Jek, Taksi Uber, GrabTaxi dan GrabBike. Keempat moda tersebut mengedepankan aplikasi teknologi dalam layanannya. Di antara keempat moda transportasi tersebut, Go-Jek lebih masif dari sisi sebagai gerakan social entrepreneur-ship. Layanan Go-Jek sendiri menurut kabar telah hari di Jakarta pada 2011, tetapi baru menawarkan layanan order ojek lewat telepon, Whatsapp, BBM dan YM.
Belakangan, pemanfaatan teknologi tersebut membuat order Go-Jek makin meningkat, yang artinya pula ada penurunan pasar dari ojek tradisional. Bisa ditebak, kecemburuan sosial muncul dari perubahan tersebut.
Berbeda dengan menanggapi fenomena Taksi Uber dan GrabTaxi, Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, membela Go-Jek. Ahok mengimbau tukang ojek untuk bergabung dengan Go-Jek untuk mengakhiri perseteruan. Selain itu, dengan adanya Go-Jek, tukang ojek tidak perlu menghabiskan waktu untuk menunggu penumpang dan ngetem di sembarang tempat. Artinya, Go-Jek justru meningkatkan efisiensi bagi tukang ojek.
Bagi masyarakat Jakarta, Go-Jek jelas menjadi jawaban atas ruwet-nya transportasi publik di sana. Keamananan dan ketepatan waktu menjadi aspek utama pada keputusan memilih moda transportasi publik. Di sinilah kita melihat ide cemerlang praktik bisnis Go-Jek yang memberi manfaat sosial pada tukang ojek dan masyarakat, sekaligus mengubah keadaan lewat layanan bisnis tersebut. Karena itu Go-Jek menjadi gerakan social entrepreneurship yang otentik. Sosok dibalik Go-Jek adalah sociopreneur yang mengagumkan.
Serupa tapi tak sama dengan Go-Jek, Gamal Albinsaid, seorang dokter yang berdomisili dan berpraktik di Malang, mendapat penghargaan HRH The Prince of Wales Young Sustainability Entreprenuer sebesar 50.000euro atau sekitar Rp.822 juta yang diberikan langsung oleh Pangeran charles pada akhir Januari 2014.
Dokter Gamal yang dikenal lewat bisnis sosialnya berbasis kesehatan di bawah bendera Indonesia Medika, memiliki program andalah Klinik Asuransi Sampah, telah menyisihkan 511 wirausaha lainnya dari 90 negara. Pernyataan apresiatif Pangeran Charles atas program Klinik Asuransi Sampah itu menyelesaikan dua persoalan sekaligus: masalah lingkungan dan kesehatan.
Unreasonable! Demikian respons kita atas kiprah Go-Jek maupun dokter muda Gamal. Namun, begitulah seorang wirausaha sosial, karyanya, bisnis sosialnya, selalu mengagumkan.
Sekedar menyebut contoh karya wirausaha sosial lainnya, branding school untuk anak yatim dan yatim piatu di Batu, Jawa timur, SMU Selamat Pagi Indonesia (SPI). Sekolah ini selain gratis dan dikhususkan bagi remaja yang kurang beruntung, juga menyeleksi calon peserta didiknya dari seluruh wilayah Indonesia, dan wajib memiliki lima agama yang diakui di Indonesia.
Tak hanya berkarya (berjasa) memenuhi hak pendidikan dasar-dan karena itu memberantas buta aksara- pada setiap warga negara, Julianto Eka Putra, orang yang berada di balik karya kemanusiaan yang disebutnya sebagai Tanah Visi itu, juga memadukan sekolah dengan destinasi wisata alam khas Batu, Kampung Kidz.
Apa yang dilakukan Go-Jek, Dokter Gamal dan Julianto, dan para pelaku bisnis sosial lainnya, adalah impian semakin banyak orang Indonesia untuk berbuat demi menciptakan nilai di kehidupan yang semakin rumit ini. Bisnis sosial menciptakan nilai di masyarakat, karenanya dapat berkelanjutan.
Entreprenuer menurut kamus Oxford dimaknai sebagai, a person who undertakes an enterprise or business, with the chance of profit or loss. Sementara itu, entreprenuer sendiri dapat digolongkan ke dalam dua kelompok, yaitu business entrepreneur dan social entrepreneur. Perbedaan pokok keduanya utamanya terletak pada pemanfaatan keuntungan.
Bagi business entrepreneur keuntungan yang diperoleh akan dimanfaatkan untuk ekspansi usaha, sedangkan bagi social entreprenuer keuntungan yang didapat (sebagian atau seluruhnya) diinvestasikan kembali untuk pemberdayaan masyarakat berisiko. Menurut Bambang Ismawan, pendiri Yayasan Bina Swadaya, dalam tren global dikotomi semacam itu kian kabur, sebab mereka (business entrepreneur dan social entrepreneur) sesungguhnya berbicara dalam bahasa yang sama, yaitu inovasi, manajemen, efektifitas, mutu dan kompetensi (Fred Hehuwat, 2007).
SINERGI KEWIRAUSAHAAN
Go-jek, Klinik Asuransi sampah, Indonesia Medika, SMU SPI dan Kampung Kidz, merupakan contoh sinergi kewirausahaan sosial berupa gerakan kemanusiaan untuk memenuhi hak setiap warga Indonesia yang dewasa ini semakin mahal : transportasi bagi warga Jakarta khusunya, pendidikan dan kesehatan. Dua ranah strategis itu berdampak pada pengentasan kemiskinan.
Justru karya social entrepreneur-ship dan social entrepreneur mesti semakin digalakkan. jangkauan isu kewirausahaan sosial itu tidak terbatas pada problem sosial terbatas tingkat kabupaten/kota, namun menjadi persoalan kemanusiaan dan karena itu persoalan dunia.
Go-Jek, Klinik Asuransi Sampah yang terintegrasi dalam bisnis sosial Indonesia Medika, serta SMU SPI yang terintegrasi dengan Kampung Kidz, maupun karya social entrepreurship lainnya di Indonesia, baik yang bergerak di bidang transportasi, pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup dan pengentasan kemiskinan, menjadi jawaban dan kontribusi Indonesia pada persoalan global, pada pengentasan masalah sosial dan kemanusiaan di muka bumi yang terangkum dalam Millenium Development Goals (MDG’s).
Banyak negara pernah berkomitmen untuk mengintegraasikan MDG’s sebagai bagian dari program pembangunan nasional dalam upaya menangani penyelesaian terkait dengan isu-isu yang sangat mendasar tentang pemenuhan hak asasi dan kebebasan manusia, perdamaian, keamanan dan pembangunan.
Deklarasi ini merupakan kesepakatan anggota PBB mengenai sebuah paket arah pembangunan global yang dirumuskan dalam beberapa tujuan yaitu: menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, mencapai pendidikan dasar untuk semua, mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan Ibu, memerangi HIV/AIDS, malaria dan pengakit menular lainnya, memastikan kelestarian lingkungan hidup, dan membangun kemitraan global untuk pembangunan.
Keprihatian akan persoalan yang kian mencemaskan itu memang tidak akan merubah situasi tanpa aksi nyata. Entrepreneurship untuk kategori social entrepreneurship penting untuk semakin didorong menggarap masalah-masalah sosial. Go-jek perlu dipahami sebagai karya yang mengagumkan untuk mengubah keadaan.
Sumber : Dewa Gde Satrya. 30 Juni 2015. Go-Jek, Sociopreneurship yang Mengagumkan. Bisnis Indonesia, hlm. 2




