Postingan ini terlambat terbit hampir sebulan dikarenakan adanya berbagai alasan teknis yang mengakibatkan penundaan di postingan ini. Sebenarnya saya mau pos ini dari awal Juni kemarin, tapi ya karena berkendala jadinya baru bisa terbit sekarang.
Di awal Juni kemarin, saya mengajak teman dari Medan yang kebetulan dulu satu kos di Surabaya. Awalnya saya ajak dia untuk liburan ke Batam, karena Medan ke Batam kan gak jauh-jauh amat. Datanglah dia ke Batam bersama dengan sepupunya. Namanya Riau dan dia mengaku baru pertama kali berkunjung ke Kepulauan Riau apalagi ke Batam. Padahal kepulauan yang ada nama dia sendiri. Konon katanya sih dia adalah pemilik dari Kepulauan Riau, tapi dia hibahkan semua ke Indonesia. Setelah cari-cari beritanya di internet, gak ada hasilnya, Sampai saat ini hal itu masih menjadi sebuah konspirasi. Si Riau datang dengan sepupunya, Hendra.
Rencana dia di Batam adalah mau jalan-jalan menjelajahi beberapa pulau kecil di sekitar Batam. Waktu pertama kali saya mengajak dia ke Batam, saya janjiin buat bawa dia ke Pulau Putri (Baca: A Trip to Pulau Putri) dan mau lihat beberapa pulau lain seperti Pulau Sambu dan Pulau Belakang Padang.
Jadi di postingan ini saya mau ceritain pejalanan kami menjelajah 3 pulau, Pulau Sambu, Pulau Belakang Padang, dan Pulau Putri.
Mereka di Batam sekitar 5 hari, tapi kami jelajah pulaunya cuma 2 hari. Di hari kedua mereka di Batam, kami pergi ke Pulau Sambu dan Pulau Belakang Padang.

Sekedar info, itu si Ivan Winata si blogger ganteng yang paling kiri, Riau di tengah, dan Hendra di sebelah kanan.
Kami pergi ke pelabuhan pancung Sekupang, buat naik perahu pompong menuju ke pulau Sambu dan Pulau Belakang padang. Kami carter satu pompong biar gampang dan lebih bebas kapan aja mau jalan.
Tujuan pertama ke Pulau Sambu, pulaunya Pertamina. Saya belum pernah pergi ke sana, dan cuma berbekal pengetahuan dari blog orang lain yang cerita perjalanannya juga ke Pulau Sambu. Ternyata di pulau Sambu memang kecil seperti yang saya baca di blog orang. Sambil kami jalan-jalan di beberapa bagian pulau yang nampaknya sudah tak terpakai lagi, dan nampak jelas seperti peninggalan dari masa kejayaan Pulau Sambu dulu, kami berhenti di depan rumah sakit atau klinik yang sudah tak terpakai. Suasana sekeliling sepi seperti tak ada tanda kehidupan. Suasananya keren abis, banyak rumah-rumah yang sudah tidak ditinggali lagi.
Sayangnya, sewaktu kami jalan-jalan di sana, saya gak berani menggunakan kamera, takut dimarahin orang di sana, soalnya masih ada orang proyek yang kerja disana, dan juga kami masuk area tempat tinggal mereka. Jadinya cuma foto-foto pakai hp aja, dan sedihnya memory card hp entah kenapa corrupted padahal gak pernah dilepas dari hp ataupun masuk ke komputer, jadi mau gak mau coba format, tetap corrupt. Alhasil, foto-foto di sana hilang semua. Termasuk beberapa foto bagus di Pulau Putri semua ilang juga.
Di Pulau Sambu, kita bisa berkunjung ke pantainya. Pantainya masih bagus dan bersih. Sepi juga, asyik buat main-main. Tapi kemarin kami gak main di pantainya karena tujuan kami cuma mau jalan-jalan dan foto-foto.
- Pantai Pulau Sambu. Foto : Ivan Winata
Di sepanjang pantai ada villa tua yang sudah tak berpenghuni. Beberapa masih keliatan bagus, tapi ada beberapa yang sudah mulai rusak.

Buat yang follow Instagram saya (@ivan_winata), mungkin sudah melihat foto anak SD yang lagi jalan di pantai. Waktu kami bertiga jalan-jalan di sana, sekitaran kami kan sepi, eh tiba-tiba muncul tuh bocah. Salah sendiri kenapa dia muncul, bagus buat kami jadikan objek foto.

Gak berlama-lama di Pulau Sambu, karena melihat cuaca agak mendung dan tiba-tiba hujan. Berteduhlah kami di pos sekuriti di dekat pantai sambil menunggu hujan yang keliatannya gak lama. Ya, gak lama kemudian hujannya sudah berhenti dan kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Penawar Rindu A.K.A. Belakang Padang.
Dulu saya pernah ke Belakang Padang dengan keluarga dan teman kerja orang tua saya. Tapi sudah lupa tentang Pulau Belakang Padang ini. Seingat saya sih di pulau itu ada pantainya, jadi kami menuju ke pantai. Kata orang di sana kalau ke pantai bisa naik becak atau ojek, karena pantainya agak jauh. Padahal seingat saya dulu waktu ke sana pantainya gak jauh-jauh amat, dulu kami jalan kaki dari pelabuhan ke pantai. Tapi ikuti petunjuk orang sekitar saja, seperti yang diajarin dosen di kampus kalau jalan-jalan sebaiknya pake GPS – Gunakan Penduduk Sekitar. Jadi kami naik becak menuju ke pantai.
Pantai di Belakang padang gak terlalu gede. Kami ke sana cuma mau duduk-duduk di pantai. Baru saja duduk tiba-tiba hujan deras. Sial, kami malah kehujanan. Untungnya kami sempat mengungsi ke warung dekat situ bersama segerombolan bapak-bapak yang mengisi waktu luang mereka dengan ngobrol seputar topik terhangat di tanah air… BATU AKIK. Si Riau dan Hendra asyik main hp, dan hp saya yang begitu canggihnya dapat sinyal tapi internet gak jalan, akhirnya ikutan konferensi Batu Akik di meja sebelah. (Ikut konferensi = nguping)
Setelah hujan berhenti, mood kami untuk jalan-jalan udah ilang. Awalnya kami sudah senang, eh malah hujan jadinya gak semangat lagi. Tapi si Riau masih mau celup-celup kaki dulu di pantai, sambil menunggu saya juga mau foto-foto sedikit.
- Pantai Belakang Padang. Foto : Ivan Winata
Besoknya kami ke Pulau Putri. Kami pergi ke sana berempat, ditambah satu lagi teman mama saya yang kebetulan lagi jalan-jalan ke Batam sekalian aja liat Pulau Putri.
Kalau mau ke Pulau Putri, cukup pergi ke Pantai Nongsa dan sewa pompong dari sana. Cukup bayar Rp. 20.000 dan anda sudah bisa menikmati rasanya pulau pribadi*. (*selama datang bukan di musim liburan/pas ramai)
Waktu kami ke sana, bener-bener gak ada orang. Awalnya ada satu bapak-bapak yang mungutin Rp. 1.000 per orang untuk biaya masuk pulau, dan juga sewain tikar seharga Rp. 10.000. Setelah bayar uang masuk dan sewa satu tikar, bapak tadi tiba-tiba hilang. Kami ditinggal sendiri di pulau ini.
Setelah taruh tas, dan sebagainya, saat yang cocok untuk foto dulu. Si Riau sampe bela-belain bawa kantong hp yang bisa dipake buat foto bawah air. Tapi menurut saya sih, tetap lebih bagus kalau bawa Go-Pro.

Waktu kami ke sana, air laut sedang surut, momen yang bagus buat menjelajah ke pulau sebelahnya.
Tapi sekedar mengingatkan kalau anda berkunjung ke Pulau Putri dan mau menjelajah ke pulau sebelahnya. Di foto di atas, batu yang kami injak itu lumayan tajam dan juga ada beberapa beling di sana, jadi lebih baik kalau jalan disitu sambil pakai sendal. Atau menyebrang kalau air sudah agak naik dikit jadi bisa mengapung di air, dan gak perlu injak batu, tapi hati-hati juga soalnya ombaknya agak keras.
Kami menikmati rasanya punya pulau pribadi, makan siang eksotis di pulau, dan ternyata lupa bawa air minum. Iya, kami udah mau makan bekal makan siang yang kami bawa, tapi baru sadar kalau kami gak ada bawa air minum. Untung aja Hendra ada simpan nomor hp mas-mas driver pompong buat nitip beliin minum dan antar ke pulau. Saya yang berbicara di telepon, dan bilang gini di telepon, “Halo Pak… bisa titip beliin minum gak mas dari pantai? minta 3 yang dingin 2 gak dingin ya. Oke deh, makasih ya bang…” Pasti mas-mas driver pompongnya bingung, “ini anak kasian banget udah dehidrasi dia di pulau. Ngomongnya aja udah gak jelas, panggil pak, mas dan bang… kasian bener” PESAN MORAL: Kalau berwisata ke pulau ingat bawa air minum jangan sampai dehidrasi dan mendadak jadi linglung.

Habis makan siang, kami semua istirahat sebentar di pantai. Tiduran di pantai itu enak banget. Teduh, adem, suara ombak… Momen ketenangan…
Mulai bosan tidur-tiduran, saya langsung ajakin Riau dan Hendra buat main di laut, karena udah mulai tinggi airnya. Kami main lempar batu ke tiang kayu yang jaraknya lumayan di tengah laut. Dan hasil dari main lempar-lempar itu.. ehem… gak sombong ya, saya yang menang dengan 10 kali bisa kenain kayunya.
Sekian, cerita menjelajah pulau di Batam bersama Riau dan Hendra. Sampai jumpa lagi di postingan berikutnya. Dan mari berharap postingan berikutnya terbit dalam waktu dekat.
Keep Reading.
Penulis : Ivan Winata (IHTB 2014) – diambil dari www.ivanwinata.wordpress.com





