Juni, 2025 — Di tengah meningkatnya isu mental health di kalangan generasi muda khususnya Gen Z, seni hadir bukan hanya sebagai hiburan. Namun seni juga sebagai media penyadaran yang menyentuh sisi emosional manusia. Inilah yang menjadi semangat utama dari pagelaran “Bagong Crying Soul”, sebuah pertunjukan yang menjadi suara kegelisahan dan luka batin yang kerap tersembunyi dalam diri para remaja.

Pagelaran ini berlangsung pada 13 Juni 2025, di Dian Auditorium Universitas Ciputra Surabaya. “Bagong Crying Soul” tidak sekadar menghadirkan seni di atas panggung. Pagelaran ini menjadi ruang refleksi atas meningkatnya isu kesehatan mental di kalangan remaja. Ia adalah refleksi dari realita banyak remaja hari ini, mereka yang tampak ceria di luar, namun menyimpan luka dalam diam.

Bagong: Simbol Luka yang Tersembunyi di Balik Senyum

Melalui karakter Bagong, tokoh wayang yang terkenal jenaka namun penuh simbolik, pagelaran ini menyuarakan sisi emosional yang kerap terabaikan. Dalam versi “Crying Soul”, Bagong digambarkan tetap tersenyum meski terus-menerus menjadi korban bullying dan ketidakadilan. Ini menjadi simbol dari banyak remaja masa kini yang tampak ceria, namun menyimpan luka yang tak terucapkan di dalam hati.

Penggagas dan sutradara pagelaran ini adalah Henry Susanto Pranoto, B.Sc.in Bible, B.Mus., M.Mus., Ph.D., dosen International Business Management Universitas Ciputra, dan melibatkan mahasiswa Universitas Ciputra serta siswa Sekolah Citra Berkat Surabaya yang telah berlatih selama satu semester penuh. Melalui karakter Bagong, mereka menyampaikan pesan bahwa setiap senyuman bisa menyimpan tangisan yang tak terlihat.

Seni sebagai Suara untuk Kesehatan Mental Remaja

Menurut data dari World Health Organization (WHO), satu dari tujuh remaja usia 10–19 tahun mengalami gangguan mental. Di Indonesia sendiri, data dari Kementerian Kesehatan tahun 2023 menunjukkan peningkatan signifikan kasus depresi dan kecemasan pada remaja. Kasus depresi dan kecemasan pada remaja ini naik hingga 25% dalam dua tahun terakhir. Faktor penyebabnya meliputi tekanan sosial, kekerasan dalam rumah tangga, hingga cyberbullying.

Melalui pertunjukan ini, Henry Pranoto ingin menyampaikan bahwa seni dapat menjadi medium aman untuk mengekspresikan perasaan. “Generasi Z terlihat aktif di luar, tetapi banyak dari mereka menyimpan luka dalam diam. Saya ingin membantu mereka belajar untuk membuka diri,” ungkapnya.

Kolaborasi Emosi dan Teknologi di Atas Panggung

Salah satu elemen paling inovatif dalam “Bagong Crying Soul” adalah musik orisinal ciptaan langsung oleh Henry Pranoto serta musik hasil kolaborasi dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Penonton diajak untuk mengenali dan membedakan nuansa emosional dari karya manusia dan AI, sebagai cara untuk menyadarkan bahwa teknologi dapat menjadi medium ekspresi yang membantu, bukan menggantikan, sisi kemanusiaan kita

Selain itu, tim juga merancang desain panggung sedemikian rupa hingga menjangkau area penonton. Pendekatan ini membangun kedekatan emosional, sehingga audiens tidak hanya menyaksikan, tetapi juga ikut merasakan atmosfer dan beban batin yang dibawakan para pemeran. Beberapa adegan bahkan mengambil inspirasi dari kisah nyata mahasiswa yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga dan perundungan.

Dari Pertunjukan Menjadi Gerakan Kesadaran Kolektif

Pagelaran ini bukan hanya sebuah acara seni, melainkan bagian dari gerakan yang lebih besar: membangun ruang aman bagi generasi muda untuk berbicara dan didengarkan. Henry Pranoto menegaskan pentingnya dukungan emosional sejak dini. “Jika mereka tidak memiliki ruang untuk mengekspresikan diri, luka itu akan terus tumbuh dalam diam. Dan sering kali, ini berujung pada keputusan ekstrem seperti menyakiti diri sendiri bahkan bunuh diri,” tegasnya.

Melalui “Bagong Crying Soul”, Henry dan seluruh tim kreatif ingin membuka jalan menuju kesadaran kolektif bahwa seni memiliki peran penting dalam pendidikan emosional, terutama dalam isu mental health yang banyak dialami oleh Gen Z. Harapannya, pagelaran ini menjadi langkah awal perubahan cara pandang masyarakat terhadap kesehatan mental, sekaligus menginspirasi lebih banyak inisiatif serupa di masa mendatang.


Bangun Kesadaran Mental Health Gen Z Lewat Seni: Cerita di Balik Pagelaran “Bagong Crying Soul”

“Bagong Crying Soul” membawa suara-suara yang lama terpendam. Pagelaran ini menjadi pengingat bahwa empati, ekspresi, dan keberanian untuk terbuka adalah kunci dalam proses penyembuhan. Di atas panggung, seni berbicara untuk mereka yang selama ini memilih diam.

Wujudkan impian kuliahmu di Universitas Ciputra!

Klik tombol di bawah untuk tahu lebih banyak tentang beasiswa & promo pendaftaran terbaru.

Artikel lain
WhatsApp