kesehatan mental fikom uc
Buku “I’m Not a Trophy Kid” dalam Genggaman Penulisnya (Sumber: Instagram @angelinevirginiawong)

Beban Ekspektasi Gen Z: Belajar Menerima Diri Lewat Buku “I’m Not a Trophy Kid”

Tumbuh di tengah kepungan ekspektasi lingkungan yang tinggi sering kali membuat Gen Z terjebak dalam fenomena trophy kid, sebuah kondisi ketika seseorang merasa dituntut untuk selalu berprestasi dan tampil sempurna demi memperoleh pengakuan. Sayangnya, dorongan konstan untuk memenuhi standar orang lain ini seringnya menyisakan kelelahan emosional yang terpendam. Menjawab realitas tersebut, Angeline Virginia Wong, mahasiswa Fikom UC, meluncurkan buku “I’m Not a Trophy Kid” versi bahasa Inggris pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia, kehadiran buku ini menjadi ruang pengingat yang hangat bagi anak muda untuk sejenak berhenti mengejar validasi dan mulai belajar merangkul diri sendiri. 

Buku yang Lahir dari Kekalahan

Keberanian untuk menunjukkan kerentanan (vulnerability) menjadi kunci utama dari karya ini. Angeline, atau yang akrab disapa Angel, memiliki latar belakang yang sangat relatable dengan topik yang ditulisnya. Pada usia 17-18 tahun, ia sempat berhadapan langsung dengan tekanan emosional yang berat hingga depresi. Dalam proses pemulihannya, ia mendapatkan penanganan profesional dari psikolog, psikiater, serta terapis. 

Pengalaman pahit tersebut memberikan pemahaman mendalam bagi Angel tentang betapa sendirinya ia berjuang di tengah himpitan ekspektasi. Alih-alih meratapi masa sulit tersebut, pengalaman itu justru mendorongnya untuk merangkul sesama lewat tulisan. Seperti yang diungkapkan Angel, “Buku ini tidak lahir dari kemenangan. Ia lahir dari kelelahan dan kegagalan. Dari seseorang yang hidupnya terlihat baik-baik saja, tetapi diam-diam lelah mempertahankannya.”

Buku yang Menjadi Temanmu Melangkah

Berbeda dari buku pengembangan diri pada umumnya, karya ini hadir bukan sebagai panduan kaku yang menuntut pembaca untuk berubah sesuai standar tertentu. Sebaliknya, buku ini dirancang sebagai companion journal atau teman perjalanan yang hangat. 

Buku ini menyajikan 30 bab interaktif yang bisa kamu nikmati dalam kurun waktu 30 hari, satu tahun, atau menyesuaikan dengan kebutuhan emosionalmu. Setiap bab hadir sebagai ruang refleksi yang aman untuk mengenali perasaan dan merayakan tiap tahapan proses penerimaan diri. Tenang saja, Angeline telah berkonsultasi secara langsung dengan psikolog dan psikiater untuk menyusun isi buku ini sebelum menerbitkannya. Dengan hal itu, buku akan tetap aman untuk proses pemulihan emosional pembaca. “Saya juga tidak mau sampai jurnal yang saya tulis ini malah membuat orang lain menjadi depresi,” ujar Angel.

3 Tips Menjaga Keseimbangan Emosional di Tengah Kesibukan

Berikut adalah beberapa kebiasaan praktis yang bisa kamu terapkan secara mandiri saat mulai merasa kewalahan dengan beban rutinitas: 

  1. Mindful Pause: sediakan 30 menit untuk diam sejenak untuk menenangkan diri dan apresiasi diri.  
  2. Expressive Journaling: tuliskan semua perasaanmu! Baik itu marah, sedih, senang, atau kecewa. Tuangkan semuanya ke dalam tulisan, tanpa memaksakan toxic positivity. 
  3. Ungkapan Syukur: tutup hari-harimu dengan rasa syukur. Syukuri segala hal baik dan buruk pada hari itu. Serta, jangan lupa untuk mengapresiasi diri karena telah melewati hari itu dengan baik.

Lingkungan Belajar yang Mendukung

Perjalanan dalam mengolah pengalaman pribadi menjadi karya yang menyentuh dan berdampak luas tentu tidak lepas dari lingkungan belajar yang suportif. Universitas Ciputra (UC) Surabaya senantiasa mendukung penuh tiap proses berkarya mahasiswanya. Melalui ekosistem yang inklusif, Universitas Ciputra mendorong mahasiswa untuk tumbuh menjadi pribadi yang mampu berdampak positif bagi masyarakat luas.

Wujudkan impian kuliahmu di Universitas Ciputra!

Klik tombol di bawah untuk tahu lebih banyak tentang beasiswa & promo pendaftaran terbaru.

Artikel lain
WhatsApp