Jawab Tantangan Industri, Universitas Ciputra dan Dekranasda Jatim Bekali 38 SMK Menjadi Generasi Fashionpreneur

Universitas Ciputra (UC) Surabaya dan Dekranasda Jawa Timur sukses menggelar program pelatihan untuk mentransformasi siswa dan guru dari 38 SMK se-Jatim. Kolaborasi ini berfokus pada penciptaan fashionpreneur muda yang tidak hanya terampil dalam desain, tetapi juga mampu menciptakan peluang kerja dan menggerakkan ekonomi kreatif daerah.
Program ini dirancang sebagai solusi atas tantangan kesenjangan antara keterampilan lulusan SMK dengan kebutuhan dinamis industri kreatif. Inisiatif ini bertujuan mengubah pola pikir siswa dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja.
Universitas Ciputra dan Dekranasda Jatim Jawab Tantangan Pengangguran SMK
Berdasarkan data BPS 2024, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan SMK masih yang tertinggi di Indonesia (8,6%), salah satunya karena kurikulum yang belum selaras dengan tuntutan industri. Menjawab hal ini, Ketua Dekranasda Jatim, Arumi Bachsin Emil Dardak, menggandeng Program Studi Fashion Design and Business (FDB) Universitas Ciputra Surabaya.
Program ini bertujuan membekali peserta dengan keterampilan kewirausahaan dan desain fesyen ready-to-wear yang mengangkat wastra lokal. “Setiap daerah di Jawa Timur memiliki keunikan wastra. Peserta harus percaya diri dengan identitas daerahnya dan mengangkat potensi ekonomi lokal melalui karya mereka,” ujar Arumi Bachsin.
Mengubah Wastra Lokal Menjadi Produk Fesyen Bernilai Jual Tinggi
Pelatihan intensif ini digelar pada 7-12 November 2025 secara daring dan luring di Laboratorium Jahit Dekranasda Jatim. Dua dosen FDB UC Surabaya, Fabio Ricardo Toreh, S.Des., M.Des., dan Dr. Soelistyowati, S.Pd. M.Pd., bertindak sebagai mentor utama.
Materi pelatihan dirancang komprehensif untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi, mencakup:
- Riset tren pasar (moodboard dan colour range).
- Desain produk komersial.
- Teknik sketsa teknikal.
- Pengolahan creative fabric (plisket, smocking) pada wastra.
- Pendekatan estetika ketimuran dalam desain modern.
“Kami ingin membangun kesadaran bahwa desain yang baik bukan hanya indah, tetapi juga hidup di pasar,” jelas Fabio. Ia menambahkan bahwa pengolahan batik dengan estetika modern menciptakan narasi budaya yang bernilai ekonomi dan diharapkan membuat Gen Z semakin menghargai wastra daerahnya.
Mencetak Generasi Fashionpreneur: Dari Pencari Kerja Menjadi Pencipta Peluang
Program ini terbukti memberikan dampak langsung bagi peserta. Berlian Susanti Putri, siswi SMKN 8 Surabaya, mengaku sangat terinspirasi. “Tantangannya luar biasa, apalagi saat harus membuat kostum berbahan batik hanya dalam dua hari… Mentor UC sangat membantu. Saya jadi terinspirasi untuk menciptakan ide baru yang punya daya jual,” ujarnya.
Kolaborasi ini tidak hanya menjadi panggung bagi 38 kabupaten/kota untuk memamerkan kekayaan wastra, tetapi juga langkah konkret dalam melahirkan wirausahawan muda. “Ketika generasi muda belajar mengelola potensi daerahnya dengan kreativitas dan nilai bisnis, mereka… juga [menciptakan] masa depan ekonomi kreatif Indonesia,” tutup Fabio.
Klik tombol di bawah untuk tahu lebih banyak tentang beasiswa & promo pendaftaran terbaru.








